wanita itu tengah tengadah mata memejam tangan membentang membiarkan hujan mengulum wajahnya yang lembut padang rumput kenangan ini me...

wanita itu tengah tengadah
mata memejam tangan membentang
membiarkan hujan mengulum wajahnya yang lembut
padang rumput kenangan ini menjadi alas jiwanya yang sedang terbebas
senyum-pun tersimpul dari wajahnya yang lembut

selalu ada rahasia dalam setiap senyum
begitu aku meyakini
dalam keadaan terpejam, wanita itu mulai memutar tubuhnya
mencoba menari dibawah hujan yang semakin lebat
menari dalam hujaman hujan yang deras
dengan tersenyum...
dengan rahasia...

loncatan kecil, putaran tubuh, tangan yang meliuk indah dalam tubuh basah
sesekali tampak cipratan-cipratan air yang berasal dari gaun tipisnya
menari bagai burung pipit riang bertemu air

aku melihatnya bahagia
karena ia akhirnya bertemu hujan, bertemu rindu
ia akhirnya tersenyum, tanpaku, tanpa hadirku
aku mematenkan momen itu dalam sebuah figura di pikiranku
dan harapanku, ia-pun bisa mematenkan kebahagiaannya

seharusnya aku menghampirinya
mengulum rinduku dalam pelukannya
memeluk rasa yang sama-sama tak kita mengerti
dan saling mencumbu kebahagiaan

tapi diakhir
tak ada yang kulakukan
hanya mematung dibalik pohon
menyapa bayangmu yang tengah riang
menikmati tiap liuk tarianmu dibawah hujan



Puisi ini diikutsertakan dalam Giveaway Semua Tentang Puisi


sambil terduduk, pasir pantai ini kugenggam erat-erat. mataku menatap lurus kearah senja yang merah seperti buah tomat yang matang. matahari...

sambil terduduk, pasir pantai ini kugenggam erat-erat. mataku menatap lurus kearah senja yang merah seperti buah tomat yang matang. matahari senja hari ini sama sekali tak menyengat, yang terasa justru suam-suam hangat dan sedikit dengungan untuk merasakan kembali keping kenangan beberapa tahun kebelakang. tidak. tidak ada air mata yang keluar kali ini. tidak juga rona sesal yang kerap kali menguburku dalam isakan tengah malam. hari ini, entah kenapa, ada damai dalam relung yang biasanya kosong. meski dibagian tertentu ada rasa kesat dan asam. tapi intinya hari ini aku lebih baik dari hari-hari sebelumnya. hari-hari kosong sesaat setelah kepergianmu.. hari-hari hampa tanpamu..

dengan segenggam pasir yang sudah ada dalam kepalanku, aku beranjak untuk berdiri. sembari mencurahkan semua rasa ke dalam genggaman, aku melempar pasir yang ku genggam lurus kearah senja layaknya pitcher baseball yang melemparkan bolanya sekuat tenaga untuk meraih kemenangan. bedanya, yang kulempar sekarang hanyalah pasir pantai yang tentu saja berpendar dan menghilang sejenak setelah terlepas dari genggamanku. mataku kembali fokus melihat senja yang setengah terbenam. akhirnya air mataku menang. mereka tak tahan lama-lama berkumpul didalam kelopakku. tanpa bisa ku tahan-tahan lagi, mereka berhasil berlari menyusuri pipiku yang sedikit kotor karena pasir pantai yang penuh kenangan ini.

aku terisak, aku kembali jatuh dan menumpahkan semua rasa pada pantai dan kerang-kerang kosong yang terserak. terbaring dan merungkut di pantai sepi ini takkan membuat orang lain heran. karena memang tak ada siapa-siapa disini. yang harusnya, minimal,  ada kamu.