Flash Fiction oleh Arif Chasan "kamu tau gak, mitos yunani mengatakan kalau dulu itu manusia memiliki empat kaki, empat tangan dan s...


Flash Fiction oleh Arif Chasan

"kamu tau gak, mitos yunani mengatakan kalau dulu itu manusia memiliki empat kaki, empat tangan dan satu kepala dengan dua wajah. tapi zeus takut membayangkan kekuatannya yang akan terlampau besar dan melebihi kekuatan para dewa. jadilah zeus mengutuk manusia dan membaginya menjadi dua bagian. memberi manusia rasa kesepian dan mau tak mau diharuskan untuk mencari setengah bagian dirinya yang dipisahkan."

"apaan sih?"

dia mengalihkan wajahnya padaku dengan meyipitkan matanya -seolah- mengantuk. menatapku tanpa ada sedikitpun rasa ketertarikan pada apa yang sudah aku ceritakan barusan. datar. yang ada di pikirannya sekarang hanyalah buku tebal bersampul biru muda yang sedang di pegangnya.

"baca apaan sih?" aku masih belum menyerah untuk menarik perhatiannya.

"buku yang judulnya `bukan urusan kamu`"

"yee... judes amat sih buu"

dia kembali diam.

"udah makan? dari tadi aku lihat kamu baca buku terus. gak lapar apa? makan aja yuk! rumah makan di seberang jalan katanya punya menu sate yang enak banget. aku pengen nyoba. kamu suka sate? aku traktir deh. tapi kalau enggak suka sate, di pinggirnya ada tukang baso yang kata anak-anak pernah masuk tivi acaranya pak bondan. maknyos katanya. aku jadi pengen ngerasain juga. gimana? kamu suka baso kan? aku pernah liat kamu makan baso tem..." aku baru sadar kalau dia sudah pindah bangku. dan menjauh tentunya.

aku kembali mendekat dan duduk di kursi sebelahnya. "kamu kenapa sih?"

dia tetap diam.

"masuk angin ya?"

masih diam

"jadi beneran lapar?"

"BERISIIIK!!"

suasana perpustakaan mendadak hening. orang-orang sekitar menatapnya dengan tatapan heran. sedangkan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. tangannyapun terlalu lemas untuk memegang buku bersampul biru muda itu sehingga ia jatuhkan. sedangkan aku? aku masih berdiri di tempat yang sama tepat di hadapan mereka semua. hanya saja mata mereka terlalu kasar untuk melihat wujud sehalus aku.


Apa yang paling terpikirkan ketika sudah berkarir di usia muda? saya yang sudah bekerja selepas lulus SMK dan sekarang juga sudah hampir t...

Apa yang paling terpikirkan ketika sudah berkarir di usia muda?

saya yang sudah bekerja selepas lulus SMK dan sekarang juga sudah hampir tiga semester melanjutkan sekolah tinggi masih saja kepikiran untuk "kapan ya punya rumah sendiri?"

memang, usia pengalaman saya masih minim dan penghasilanpun jauh dari kata "wah". tapi tak ada yang salah dalam perencanaan. termasuk memiliki rumah.

mungkin nanti, ketika keuangan saya sudah mulai stabil, saya akan membutuhkan link ini http://www.rumah123.com/microsite/info-bunga-kpr. entah kapan, semoga saja memang benar suatu saat nanti saya akan benar-benar membutuhkannya.

dan alasan saya untuk mepublikasikannya di blog adalah agar saya setidaknya pernah menuliskan dan menjadi bukti kalau saya pernah memiliki niat ini. :D

cheers.


Cerpen Arif Chasan Tubuhnya kecil, matanya bulat dan rambutnya agak sedikit gondrong untuk ukuran seorang anak laki-laki. namanya Asep, u...

Cerpen Arif Chasan

Tubuhnya kecil, matanya bulat dan rambutnya agak sedikit gondrong untuk ukuran seorang anak laki-laki. namanya Asep, umurnya sekitar 7 tahun tinggal di pemukiman pinggir Jakarta yang terkenal kumuh dan sumpek. tapi Asep, penampilannya tidak kucel. pakaiannya bersih dan tidak kusut. dan rambutnya juga senantiasa tersisir rapih.

Aku suka berkunjung ke tempat ini di sela-sela kesibukanku sebagai mahasiswi. yah, sekedar bermain dengan Asep dan teman-temannya. kadang aku membawa buku bacaan, makan siang dan hadiah kecil yang dibungkus kertas kado warna-warni. seringnya aku berbagi cerita dan mendongeng dengan mereka. kadang juga mengajari mereka membaca dan berhitung. hal yang tak pernah mereka dapatkan secara formal. ya, Asep dan kawan-kawannya hanyalah contoh kecil dari anak-anak yang tidak mendapat angin pendidikan. kasian memang. sebuah catatan merah yang sangat jelas di gemerlapnya ibukota.

"kak Sophi datang! kak Sophi datang!" teriak Asep kepada teman-temannya. mereka berlarian dan berebut tanganku untuk mereka cium. aku selalu merindukan momen ini setiap kali datang kesini. sungguh menghangatkan.

"Sep, ibu ada?" aku bertanya pada Asep ketika ia selesai mencium tanganku.

"gak ada kak, masih nyapu di kantor kementerian, paling nanti sore pulangnya" jawab Asep yang tahu betul kebiasaan ibunya. 

jam masih menunjukkan pukul satu dan cuaca jakarta sedang terik-teriknya. aku mengajak Asep dan teman-temannya ke bawah pohon di pinggir lapangan tempat kami biasa menghabiskan waktu. seperti biasa, aku mendongeng di depan anak-anak polos ini. cerita tentang nabi-nabi masa lalu yang begitu istimewa adalah cerita yang sangat mereka sukai. mereka menyimak setiap bait kata yang keluar dari mulutku. hingga waktu tak terasa telah berputar sangat cepat. aku melihat dari kejauhan ibunya Asep sudah pulang ke rumah. memarkirkan gerobaknya di samping rumah. aku meraih tasku dan mengambil beberapa buku gambar dan sekotak krayon.

"ini ada buku gambar sama krayon, kalian dapet satu-satu buku gambarnya, tapi krayonnya gantian yah. kakak mau ke Ibunya Asep dulu" kataku sambil membagikan buku gambar ke anak-anak penuh cinta ini sebelum beranjak menuju ibunya Asep.

"Assalamu'alakum bu, apa kabar?" aku menjulurkan tangan untuk mencium tangannya.

"Waalaikum salam dek Sophi. eh, jangan cium tangan ibu. tangan ibu kotor abis kerja. kan dek Sophi tau ibu kerjanya kena sampah terus" si Ibu terlihat agak kikuk.

"gak apa-apa bu, tangan Sophi juga agak kotor kena krayon" aku bersikeras. si Ibu pun menyerah dengan sikapku. ia menjulurkan tangannya. aku menciumnya. dalam genggamanku, ada tangan yang terasa kasar untuk ukuran seorang wanita. menggambarkan seorang ibu yang pekerja keras, yang sangat aku kagumi.

"ayo masuk dek Sophi" Ibunya Asep membukakan pintu rumahnya. rumah yang sangat sederhana dan bisa dibilang sempit. tapi tidak sumpek. meja, kursi, dan radio tua di pojok ruangan yang sepertinya barang paling mewah di rumah ini, semuanya tertata rapih. menjadikan rumah ini terasa begitu istimewa di tengah-tengah kekurangannya. tak mengherankan kalau Asep tumbuh menjadi anak yang baik.

setelah aku duduk, si ibu menjamuku dengan segelas teh manis hangat. aku meneguknya.

"dek Sophi gimana kuliahnya?"

"alhamdulillah bu, sebentar lagi mau nyusun skripsi, doain Sophi ya bu"

"amin, mudah-mudahan selalu diberi kelancaran oleh yang maha kuasa"

"jadi begini bu.." aku meletakkan gelas teh manisku di meja. "Sophi punya rencana mau ngajak Asep dan temen-temennya jalan-jalan rekreasi ke dufan seharian. Sophi udah punya rencana ini dari dulu, mengingat mereka belum pernah jalan-jalan ke tempat rekreasi. anak-anak pasti seneng. dan ini bisa jadi kejutan yang gak akan pernah mereka lupain. apa ibu mengijinkan kalau Sophi ajak mereka bu?"

"ibu seneng-seneng aja kalau lihat Asep dan temen-temennya bisa main sama dek Sophi. mereka juga pasti seneng. tapi apa ini gak bakalan ngerepotin dek Sophi? dek Sophi udah cukup repot hampir setiap hari main dan ngajarin anak-anak disini. ibu jadi ngerasa enggak enak"

"gak apa-apa bu, Sophi seneng kalau anak-anak seneng. dan Sophi juga gak ngerasa repot sama sekali, Sophi terhibur kalau lagi sama anak-anak"

"terimakasih banyak dek Sophi, adek sudah baik sama ibu dan anak-anak disini. semoga semua kebaikan dek Sophi dibalas oleh yang maha kuasa berkali-kali lipat" si Ibu menyalamiku. aku tersenyum bahagia.

obrolan seperti ini juga aku ulangi ke orang tua Rian, Memey, Doni, Fajar, Sopyan dan Zahra. teman-teman Asep. aku bersyukur semua orang tua mengijinkan. jadi tak ada halangan untuk mengajak anak-anak untuk pergi ke dufan besok. begitu juga ketika aku mengabari anak-anak, mereka sangat bahagia dan berebutan memelukku. bahkan Fajar, anak paling gendut di kelompok ini, berteriak senang dan loncat-loncat bahagia. lucu sekali melihat tingkahnya.

***

hari yang ditunggu-tunggupun sudah tiba. anak-anak sudah berdandan rapi dan dan siap untuk berangkat. kami sepakat menggunakan busway untuk mencapai dufan, sepanjang perjalanan semuanya menunjukkan ekspresi gembira. senang sekali melihat mereka seperti ini.

kami sudah sampai halte busway ancol. bersama-sama masuk ancol, lalu antri di pintu masuk dufan. begitu melewati pintu masuk, semuanya langsung berhamburan berdebat dan bertengkar memutuskan wahana apa dulu yang akan mereka naiki. Asep yang pemberani ingin langsung naik Histeria, tapi Memey dan Zahra ingin sekali masuk ke istana boneka, sisanya ingin naik kicir-kicir dan halilintar. semuanya aku tengahi dan membujuk mereka agar bersabar dan naik semua wahana satu persatu. pada akhirnya, semuanya bisa naik wahana-wahana yang mereka sukai didampingi olehku. wajah puas tertampak di masing-masing wajah anak-anak istimewa ini. dan aku sendiri pun tak pernah merasa sebahagia ini. hari ini benar-benar tak mungkin aku lupakan.

***

Asep dan yang lainnya berhamburan menuju orang tua masing-masing.

"tadi aku naik kicir-kicir gedeee banget!"

"ada istana boneka bagus banget loh ma"

"mah, aku tadi naik halilintar! keren banget mah!"

seperti itulah aduan anak-anak ini ke orang tua mereka. aku senang mereka bisa sesenang itu. sebelum pulang, aku mampir dulu ke rumah kecil keluarga Asep sekedar untuk pamitan. setelah Asep masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja ibunya Asep memelukku erat.

"dek Sophi, terima kasih... terima kasih banyak."

ada air mata yang mengalir, aku sendiripun tak kuasa membendung air mata sendiri juga tak sanggup untuk berkata sepatah pun tak menyangka hal ini bisa terasa begitu berarti bagi keluarga kecil ini. dalam pelukan itu, ternyata kita tak menyadari ada sepasang mata bulat kecil mengintip di balik pintu kamar. melihat pemandangan yang mungkin masih belum bisa ia pahami.