Garis Horizon

  • Home
  • About
  • Penasaran?!
  • Beli Pulsa
  • Mutasee

CATEGORY >

Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Sebulan lalu modem smartfren saya hilang, dan saya tidak mungkin hidup sebulan tanpa internet. karena aktifitas saya sehari-harinya tak bisa lepas dari internet. dari sekedar mengisi waktu sampai bekerja, semuanya saya lakukan lewat internet.

mau beli modem baru, tapi belum memiliki cukup uang, akhirnya saya putuskan untuk berlangganan internet dengan kartu as saya yang sudah saya miliki hampir 7 tahun ini.

agak berat sih awalnya, soalnya paket internet telkomsel ini ada dua tipe. satu berbasis volume, satu lagi kuota. saya pernah pakai kuota, kalau kuotanya habis, memang masih bisa internetan. tapi untuk buka homepage google.com saja bisa saya tinggal mandi dulu, cuci baju, yoga sampai saya merayakan ulang tahun lagi pun proses membuka googlenya masih saja loading.

yang kedua ini berbasis volume. tapi mahalnya minta ampun. untuk volume 9GB saja hargnya 400ribuan. dan yang paling bikin emosi dua belas dari paket ini adalah, kalau volumenya habis, telkomsel GAK NGASIH TAHU APAPUN. ngga ada notif atau apa. jadi kalau volumenya habis, dan kartu telkomsel kamu masih ada pulsa, ucapkan selamat tinggal pada pulsa kamu. dan saya sudah kecolongan ini hampir sejutaan (rupiah).

biasalah, lagi youtube-an, browsing dll.. pulsa saya baru ngisi 100rb. tau-tau volume sama pulsa di angka 0. kamu mau komplen sampai keluar kecoa dari mulutpun, telkomsel gak akan mau tau.dan ini sudah kejadian sama saya sekitar 4 sampai 5 kali.

satu kejadian terakhir baru-baru ini, ceritanya saya masih punya volume 500MB dan pulsa 160rb. ditinggal tidur dan bangun-bangun pulsa 0 dan volume masih 500MB. gila kan?

terus apa telkomsel mau refund? boro-boro, saya komplen dijanjiin maksimal 3x24 jam. di tanya lagi di hari keempat, disuruh nunggu lagi 3x24 jam. mungkin nunggu saya lupa ya?

memang saya cuman satu orang dari 200juta pelanggan telkomsel. pelanggan yang udah hampir 7 tahun pakai telkomsel, dengan penggunaan data hampir sejuta dibulan ini. tapi mohon izinkan saya untuk berkata ini dari dalam lubuk hati saya paling dalam - "dengan ini saya menyatakan benar-benar kecewa dengan pelayanan telkomsel"

jadi saran saya, jangan beli paket volume ultima dari telkomsel... atau jangan pakai telkomsel aja sekalian.

cheers

--edit bukti printscreen--





bisa diliat itu diprinstcreen diwaktu yang sama. biaya gprs 168rb tapi masih ada volume 500MB

printscreen tambahan lagi biar ngga dianggap omong kosong kalau saya emang rugi banyak dari paket ini




Share on:
Jadi ceritanya, dalam beberapa bulan ini saya mendapat amanah untuk mengerjakan sebuah project perbankan.

Dalam pengerjaannya, sistem yang saya dan tim saya buat membutuhkan sebuah stiker yang ditempelkan di mesin ATM. simple. jika stiker itu ada, maka sistem saya akan berjalan dengan normal.

Setelah 2 minggu masa pilot, -pilot itu sejenis percobaan yang dilakukan untuk menguji dan mengevaluasi sistem yang tim saya buat apakah berjalan baik atau tidak-  kita dan pihak client melakukan meeting evaluasi. tebak apa permasalahan paling banyak dari sistem tersebut?

Stikernya yang seharusnya menempel di mesin ATM banyak yang hilang dan rusak! bukan karena bahan stikernya yang jelek atau masalah teknis lainnya, tapi memang karena sengaja di rusak oleh orang. *sigh*

Bahkan seorang kepala cabang yang hadir di meeting tersebut menuturkan kalau memang ada orang-orang yang sengaja bawa cutter, linggis bahkan palu ke mesin atm cuman untuk merusak propertinya. sesuatu yang sangat tidak saya sangka sebelumnya.

Pantas ketika propose bahan stiker, ada yang berpendapat untuk memakai bahan stiker yang  biasa dipakai oleh mobil balap formula 1. awalnya saya tertawa dan berpikir itu benar-benar konyol. tapi setelah melihat tingkah orang-orang bercutter dan berpalu itu, sepertinya tidak ada pilihan lain.

*stiker mobil balap formula 1 itu mahal gila boooo!


Share on:

Flash Fiksi oleh Arif Chasan

“aku sangat jelas melihatnya, nak” katanya sambil mencelupkan kuasnya ke cat lukis warna merah dengan tangannya yang kurus dan keriput.

“Bisa bapak gambarkan rupanya?” tanyaku.

“sayang sekali, aku takut tak ada kata dan bahasa di dunia ini yang mampu menggambarkannya nak, aku sendiri mungkin tidak mempercayainya jika tidak melihatnya sendiri, dan aku sangat yakin banyak detil yang kulewatkan.” Tangannya kini menari naik turun di bidang kanvas yang tak lagi putih polos.

“lantas, apa yang membuat bapak yakin kalau apa yang bapak lihat adalah Ia yang maha awal dan maha akhir?” microphoneku sedikit lebih aku dekatkan agar rekamanku lebih jelas hasilnya. Naluriku sebagai wartawan, aku tidak ingin melewatkan satupun kata yang diucapkan oleh pelukis tua ini.

“jika kamu sudah benar-benar mengenalnya, bukankah itu adalah hal yang sangat mudah? Sama seperti ketika kamu melihat ibumu, meskipun kamu sudah berpisah selama puluhan tahun, namun ketika akhirnya bisa bertemu kembali, kamu tak mungkin tidak mengenalinya meskipun wajahnya banyak berubah, iya kan?” ia menghentikan tangannya dan menoleh padaku dengan pandangan kosong namun seolah ia bisa melihat jauh kedalam diriku. Aku merasa ditelanjangi oleh pandangannya yang dingin.

“aku meragukannya pak” akhirnya aku membuka mulut setelah hening sekitar 5 detik.

“ah ya, ya.. bisa jadi” pandangannya kembali fokus ke kanvasnya.

Sejenak kuperhatikan, apa yang ia lukis hanyalah karya abstrak dan tak bisa kumengerti. Tapi torehan warna, garis lengkung dan setiap komponen yang ada di kanvasnya, entah bagaimana, membawa kesejukan dan ketentraman.

“kamu masih di sana, nak?” kalimatnya yang ramah membuyarkan lamunanku. “ah iya, maaf, sepertinya saya sudahi dulu untuk hari ini ya pak, terima kasih banyak atas waktunya dan mohon maaf sudah merepotkan” aku mengakhiri sesi wawancara ini dengan membawa perasaan yang masih mengganjal. Di ruang serba putih dan hanya tersedia satu kasur yang juga berwarna putih baik itu sepreinya maupun bantalnya, Aku membereskan peralatanku dan bersiap pulang. Saat hendak beranjak, aku masih tak bisa membuang rasa heranku melihat keadaan bapak tua didepanku, usianya sudah lebih dari setengah abad, wajahnya penuh keriput dan bagian matanya, ia memiliki pupil berwarna putih seputih kapas. Ya, bapak pelukis ini buta. Dan masih melukis.

“jangan heran nak.." tiba-tiba ia bicara. "mata hanya satu dari sekian banyak cara lain untuk melihat” bapak pelukis itu memunggungiku, namun sangat jelas aku rasakan kalau ia sebenarnya sedang “menatapku”.





Share on:
Doni duduk di pelataran stasiun senen. Rencananya, doni akan naik kereta menuju malang –mendaki semeru- seorang diri. Ketika kereta yang akan membawanya ke malang siap berangkat dan doni mau berjalan masuk ke dalam kereta, ada teriakan ‘copet!’ dari seorang wanita tak jauh dari tempatnya berdiri. menoleh ke arah suara, doni mendapati seorang pria berlari ke arahnya dengan tas wanita di tangan kiri dan pisau di tangan kanan. Dengan refleks, ketika pencopet itu sejangkauan tangannya, ia berusaha menghentikan si pencopet. Naas, pisau dari pencopet menebas lengan kanannya tapi doni mengerahkan semua kekuatannya yang tersisa untuk mengayunkan ransel seberat 20kg miliknya ke wajah pencopet tersebut. Akhirnya, doni terluka di bagian tangannya –berdarah-, pencopet terjerembab di lantai stasiun, isi ransel doni berceceran kemana-mana dan tentu saja tas milik seorang wanita korban pencopet itu berhasil terselamatkan.

Di pos keamanan, setelah pencopet tersebut dibawa petugas, Doni mendapat perawatan untuk lengan kanannya yang berdarah. Wanita korban pencopetan itu bernama Nina.  Ia adalah seorang mahasiswi yang setiap harinya menggunakan jasa commuter line. Nina tak henti-hentinya berterima kasih pada doni sekaligus merasa tak enak. Doni ditinggalkan kereta yang akan ditumpanginya dan otomatis semua rencana doni hari itu gagal total. Nina yang tak enak menawarkan apa saja sebagai gantinya juga sebagai balas jasanya sudah menyelamatkan tas nina yang memang isinya sangat berharga. Karena jadwal cuti doni memang masih sekitar 2 bulan. Dan mengetahui nina adalah mahasiswi yang sedang libur Doni bilang “kalau kamu mau, lusa kamu temani saya untuk naik semeru. kamu bawa persiapan untuk kamu sendiri dan selasa jam 13.00 kamu saya tunggu disini dan kita sama-sama berangkat ke semeru.” Nina bingung dan mengatakan akan memikirkannya.

Hari Selasa pun tiba. di stasiun senen jam 12 doni sudah duduk-duduk dengan bawaan setara untuk 2 orang. Meski tak terlalu berharap banyak kalau nina –yang baru ketemu kemarin terus langsung ngajak perjalanan naik gunung- akan muncul, tapi jika memang dia akhirnya datang, doni tak bisa main-main dengan membawa peralatan seadanya. Dia mempersiapkan semuanya. Melihat jam sudah pukul 13.30. 15 menit lagi kereta akan berangkat.nina belum juga datang. Doni menyerah dan berpikir “lumayan lah, persediaannya jadi dobel”. Sesaat akan naik kereta, doni ditepuk pundaknya. “maaf terlambat, tadi kejebak macet” kata nina.

Setelah di dalam kereta. Doni dan nina masih canggung. Doni mendahului percakapan dengan bertanya “kenapa kok akhirnya kamu mau ikut dengan saya?” nina menjawab. “yah, dengan bantuan alat ajaib bernama google. Hehe.. aku searching nama kamu di google, dan voila! Semua profil diri kamu aku bisa tahu. Facebook, twitter dan blog. Terutama blog sih, Aku liat blog kamu dan banyak banget foto-foto keren waktu kamu hiking dan snorkling. Dari situ sepertinya aku bisa tarik kesimpulan kalo kamu bisa dipercaya. Tapi aku masih belum sepenuhnya percaya sama kamu loh.. Hehe.” “privasi itu cuman mitos ternyata” kata doni.

Sesampainya distasiun malang, doni menemui lokalnya di malang. Rahadi namanya. Rahadi kaget ternyata Doni tidak datang seorang diri seperti biasanya.  Sambil jalan menggunakan mobil Rahadi, Doni menceritakan awal mula pertemuannya dengan Nina. Selama perjalanan ini, Doni mulai mengenal sifat asli Nina yang kikuk dan terkesan ‘anak manja’.

Rahadi mengatar Doni dan Nina sampai ranupani. Dari sana, perjalanan panjang dan melelahkan dimulai, dari perjalanan ini, Ninapun mulai melihat sifat doni yang pekerja keras. Terbukti ketika mereka sampai ranu kumbolo, doni yang mendirikan dua tenda, memasak makanan dan menyiapkan api unggun untuk mereka berdua.

Sebagai blogger, Doni mendokumentasikan semuanya melalui kameranya. Ketika perjalanan dilanjutkan dan sampai di kalimati untuk mendirikan tenda lagi. Doni dan nina merumpi dengan para pendaki lain. Saling bercerita pengalaman dan saling menguatkan. Kalau malam ini, tepat pukul 12 malam.  Mereka akan melakukan perjalanan sesungguhnya mendaki mahameru.

Tepat pukul 12 malam. Doni membangunkan nina di tendanya. Nina pesimis untuk melanjutkan perjalanan. Mengingat dingin yang menusuk tulang, dan mahameru yang tepat didepannya menjulang sangat tinggi dan angkuh. dan akhirnya doni bisa meyakinkan nina untuk melanjutkan perjalanannya untuk menaklukkan mahameru.


Perjalanan berat berhasil mereka lalui. Mendaki pasir dengan kemiringan 45 derajat, Dingin yang menusuk tulang, lelah yang menindih tubuh berhasil mereka taklukan. Diatas mahameru, nina berterimakasih pada doni. Ia percaya, kalau pertemuannya dengan doni bukanlah kebetulan. Ia menemukan dirinya yang sesungguhnya di atas mahameru ini, bersama doni. Ia bersyukur pada tuhan atas pertemuannya dengan doni.

--------------------------------------------------------------------

*ini adalah pe-er draft fiksi yang di tugaskan oleh pak Benny Rhamdani


Share on:

Flash Fiction oleh Arif Chasan

"kamu tau gak, mitos yunani mengatakan kalau dulu itu manusia memiliki empat kaki, empat tangan dan satu kepala dengan dua wajah. tapi zeus takut membayangkan kekuatannya yang akan terlampau besar dan melebihi kekuatan para dewa. jadilah zeus mengutuk manusia dan membaginya menjadi dua bagian. memberi manusia rasa kesepian dan mau tak mau diharuskan untuk mencari setengah bagian dirinya yang dipisahkan."

"apaan sih?"

dia mengalihkan wajahnya padaku dengan meyipitkan matanya -seolah- mengantuk. menatapku tanpa ada sedikitpun rasa ketertarikan pada apa yang sudah aku ceritakan barusan. datar. yang ada di pikirannya sekarang hanyalah buku tebal bersampul biru muda yang sedang di pegangnya.

"baca apaan sih?" aku masih belum menyerah untuk menarik perhatiannya.

"buku yang judulnya `bukan urusan kamu`"

"yee... judes amat sih buu"

dia kembali diam.

"udah makan? dari tadi aku lihat kamu baca buku terus. gak lapar apa? makan aja yuk! rumah makan di seberang jalan katanya punya menu sate yang enak banget. aku pengen nyoba. kamu suka sate? aku traktir deh. tapi kalau enggak suka sate, di pinggirnya ada tukang baso yang kata anak-anak pernah masuk tivi acaranya pak bondan. maknyos katanya. aku jadi pengen ngerasain juga. gimana? kamu suka baso kan? aku pernah liat kamu makan baso tem..." aku baru sadar kalau dia sudah pindah bangku. dan menjauh tentunya.

aku kembali mendekat dan duduk di kursi sebelahnya. "kamu kenapa sih?"

dia tetap diam.

"masuk angin ya?"

masih diam

"jadi beneran lapar?"

"BERISIIIK!!"

suasana perpustakaan mendadak hening. orang-orang sekitar menatapnya dengan tatapan heran. sedangkan wajahnya berubah menjadi pucat pasi. tangannyapun terlalu lemas untuk memegang buku bersampul biru muda itu sehingga ia jatuhkan. sedangkan aku? aku masih berdiri di tempat yang sama tepat di hadapan mereka semua. hanya saja mata mereka terlalu kasar untuk melihat wujud sehalus aku.


Share on:

Cerpen Arif Chasan

Tubuhnya kecil, matanya bulat dan rambutnya agak sedikit gondrong untuk ukuran seorang anak laki-laki. namanya Asep, umurnya sekitar 7 tahun tinggal di pemukiman pinggir Jakarta yang terkenal kumuh dan sumpek. tapi Asep, penampilannya tidak kucel. pakaiannya bersih dan tidak kusut. dan rambutnya juga senantiasa tersisir rapih.

Aku suka berkunjung ke tempat ini di sela-sela kesibukanku sebagai mahasiswi. yah, sekedar bermain dengan Asep dan teman-temannya. kadang aku membawa buku bacaan, makan siang dan hadiah kecil yang dibungkus kertas kado warna-warni. seringnya aku berbagi cerita dan mendongeng dengan mereka. kadang juga mengajari mereka membaca dan berhitung. hal yang tak pernah mereka dapatkan secara formal. ya, Asep dan kawan-kawannya hanyalah contoh kecil dari anak-anak yang tidak mendapat angin pendidikan. kasian memang. sebuah catatan merah yang sangat jelas di gemerlapnya ibukota.

"kak Sophi datang! kak Sophi datang!" teriak Asep kepada teman-temannya. mereka berlarian dan berebut tanganku untuk mereka cium. aku selalu merindukan momen ini setiap kali datang kesini. sungguh menghangatkan.

"Sep, ibu ada?" aku bertanya pada Asep ketika ia selesai mencium tanganku.

"gak ada kak, masih nyapu di kantor kementerian, paling nanti sore pulangnya" jawab Asep yang tahu betul kebiasaan ibunya. 

jam masih menunjukkan pukul satu dan cuaca jakarta sedang terik-teriknya. aku mengajak Asep dan teman-temannya ke bawah pohon di pinggir lapangan tempat kami biasa menghabiskan waktu. seperti biasa, aku mendongeng di depan anak-anak polos ini. cerita tentang nabi-nabi masa lalu yang begitu istimewa adalah cerita yang sangat mereka sukai. mereka menyimak setiap bait kata yang keluar dari mulutku. hingga waktu tak terasa telah berputar sangat cepat. aku melihat dari kejauhan ibunya Asep sudah pulang ke rumah. memarkirkan gerobaknya di samping rumah. aku meraih tasku dan mengambil beberapa buku gambar dan sekotak krayon.

"ini ada buku gambar sama krayon, kalian dapet satu-satu buku gambarnya, tapi krayonnya gantian yah. kakak mau ke Ibunya Asep dulu" kataku sambil membagikan buku gambar ke anak-anak penuh cinta ini sebelum beranjak menuju ibunya Asep.

"Assalamu'alakum bu, apa kabar?" aku menjulurkan tangan untuk mencium tangannya.

"Waalaikum salam dek Sophi. eh, jangan cium tangan ibu. tangan ibu kotor abis kerja. kan dek Sophi tau ibu kerjanya kena sampah terus" si Ibu terlihat agak kikuk.

"gak apa-apa bu, tangan Sophi juga agak kotor kena krayon" aku bersikeras. si Ibu pun menyerah dengan sikapku. ia menjulurkan tangannya. aku menciumnya. dalam genggamanku, ada tangan yang terasa kasar untuk ukuran seorang wanita. menggambarkan seorang ibu yang pekerja keras, yang sangat aku kagumi.

"ayo masuk dek Sophi" Ibunya Asep membukakan pintu rumahnya. rumah yang sangat sederhana dan bisa dibilang sempit. tapi tidak sumpek. meja, kursi, dan radio tua di pojok ruangan yang sepertinya barang paling mewah di rumah ini, semuanya tertata rapih. menjadikan rumah ini terasa begitu istimewa di tengah-tengah kekurangannya. tak mengherankan kalau Asep tumbuh menjadi anak yang baik.

setelah aku duduk, si ibu menjamuku dengan segelas teh manis hangat. aku meneguknya.

"dek Sophi gimana kuliahnya?"

"alhamdulillah bu, sebentar lagi mau nyusun skripsi, doain Sophi ya bu"

"amin, mudah-mudahan selalu diberi kelancaran oleh yang maha kuasa"

"jadi begini bu.." aku meletakkan gelas teh manisku di meja. "Sophi punya rencana mau ngajak Asep dan temen-temennya jalan-jalan rekreasi ke dufan seharian. Sophi udah punya rencana ini dari dulu, mengingat mereka belum pernah jalan-jalan ke tempat rekreasi. anak-anak pasti seneng. dan ini bisa jadi kejutan yang gak akan pernah mereka lupain. apa ibu mengijinkan kalau Sophi ajak mereka bu?"

"ibu seneng-seneng aja kalau lihat Asep dan temen-temennya bisa main sama dek Sophi. mereka juga pasti seneng. tapi apa ini gak bakalan ngerepotin dek Sophi? dek Sophi udah cukup repot hampir setiap hari main dan ngajarin anak-anak disini. ibu jadi ngerasa enggak enak"

"gak apa-apa bu, Sophi seneng kalau anak-anak seneng. dan Sophi juga gak ngerasa repot sama sekali, Sophi terhibur kalau lagi sama anak-anak"

"terimakasih banyak dek Sophi, adek sudah baik sama ibu dan anak-anak disini. semoga semua kebaikan dek Sophi dibalas oleh yang maha kuasa berkali-kali lipat" si Ibu menyalamiku. aku tersenyum bahagia.

obrolan seperti ini juga aku ulangi ke orang tua Rian, Memey, Doni, Fajar, Sopyan dan Zahra. teman-teman Asep. aku bersyukur semua orang tua mengijinkan. jadi tak ada halangan untuk mengajak anak-anak untuk pergi ke dufan besok. begitu juga ketika aku mengabari anak-anak, mereka sangat bahagia dan berebutan memelukku. bahkan Fajar, anak paling gendut di kelompok ini, berteriak senang dan loncat-loncat bahagia. lucu sekali melihat tingkahnya.

***

hari yang ditunggu-tunggupun sudah tiba. anak-anak sudah berdandan rapi dan dan siap untuk berangkat. kami sepakat menggunakan busway untuk mencapai dufan, sepanjang perjalanan semuanya menunjukkan ekspresi gembira. senang sekali melihat mereka seperti ini.

kami sudah sampai halte busway ancol. bersama-sama masuk ancol, lalu antri di pintu masuk dufan. begitu melewati pintu masuk, semuanya langsung berhamburan berdebat dan bertengkar memutuskan wahana apa dulu yang akan mereka naiki. Asep yang pemberani ingin langsung naik Histeria, tapi Memey dan Zahra ingin sekali masuk ke istana boneka, sisanya ingin naik kicir-kicir dan halilintar. semuanya aku tengahi dan membujuk mereka agar bersabar dan naik semua wahana satu persatu. pada akhirnya, semuanya bisa naik wahana-wahana yang mereka sukai didampingi olehku. wajah puas tertampak di masing-masing wajah anak-anak istimewa ini. dan aku sendiri pun tak pernah merasa sebahagia ini. hari ini benar-benar tak mungkin aku lupakan.

***

Asep dan yang lainnya berhamburan menuju orang tua masing-masing.

"tadi aku naik kicir-kicir gedeee banget!"

"ada istana boneka bagus banget loh ma"

"mah, aku tadi naik halilintar! keren banget mah!"

seperti itulah aduan anak-anak ini ke orang tua mereka. aku senang mereka bisa sesenang itu. sebelum pulang, aku mampir dulu ke rumah kecil keluarga Asep sekedar untuk pamitan. setelah Asep masuk ke dalam kamarnya, tiba-tiba saja ibunya Asep memelukku erat.

"dek Sophi, terima kasih... terima kasih banyak."

ada air mata yang mengalir, aku sendiripun tak kuasa membendung air mata sendiri juga tak sanggup untuk berkata sepatah pun tak menyangka hal ini bisa terasa begitu berarti bagi keluarga kecil ini. dalam pelukan itu, ternyata kita tak menyadari ada sepasang mata bulat kecil mengintip di balik pintu kamar. melihat pemandangan yang mungkin masih belum bisa ia pahami. 
Share on:

Dermaga Hari Ini

Cerpen Arif Chasan

langkah terhenti disebuah dermaga senja ini. entah bagaimana aku sampai di tempat ini. pantai dengan pasir putih membentang membelah daratan dan laut yang menjingga. suasana sepi cenderung sendu menyelimuti angin sore pesisir ini. indah. seharusnya itu komentarku. tapi pikiranku sedang tidak berada ditempat ini. berjalan mengawang tanpa arah selama tiga jam terakhir berhasil membuatku lelah dan mendudukkan diri di tepi dermaga antah berantah ini.

banyak orang tidak bisa menghargai apa yang sudah dimilikinya. seperti aku. sampai suatu hari, tepatnya hari ini aku kehilangan dia. dia yang benar-benar membuatku merasa berharga.

sampai kemarin, aku selalu berpikir kalau bekerja keras tak kenal waktu adalah hal yang bagus dan membanggakan. kamu tahu kan? bekerja memenuhi tanggung jawab sebagai karyawan dan suami. lembur setiap hari, dipercaya oleh bos dan teman sejawat, selalu jadi pemegang tanggung jawab terbesar dalam suatu proyek. tak ada yang lebih membanggakan dari itu. tapi untuk hari ini, aku menyesal. dan tak pernah semenyesal ini.

ditengah-tengah dera otakku yang mulai tak waras, aku melihat sejoli di dermaga ini. berpegang tangan dan sesekali bertatapan penuh cinta. sungguh aku iri dengan mereka yang bisa menghabiskan senja bersama. berbeda denganku yang baru saja diteriaki dengan kata "cerai" oleh orang yang selama ini aku syukuri telah dapat memilikinya.

aku kembali melirik mereka yang tengah dipeluk asmara. di wajah si lelaki tampak rona bahagia. bahagia karena sudah memiliki si wanita yang kini sedang ada dipelukannya. sedangkan si wanita dengan rambutnya yang tergerai tak henti-hentinya menyunggingkan senyum di bibirnya yang tipis. melihat mereka, aku tersenyum dan berdo'a semoga nasib baik yang akan menyapa mereka diwaktu kemudian. tidak sepertiku yang sudah menelantarkan keluargaku satu-satunya hanya untuk mengejar kebanggaan diri. walaupun pada akhirnya, sepertinya akulah yang menelantarkan diriku sendiri.

bayanganku pada hidup yang sudah berakhir membuatku tak sadar kalau pasangan berbahagia itu sudah tak ada dalam jarak pandangku. aku melihat sekeliling dan hanya melihat tiga orang pemancing tua duduk di tepi dermaga ujung sana. aku bangkit dan menghampiri salah satu pemancing dengan kaos biru dan topi anyam. dia adalah pemancing yang jaraknya paling dekat denganku.

"permisi pak, mau numpang tanya" aku berjongkok disampingnya.

"ada apa dek?"

"bapak tau siapa nama pasangan yang barusan main-main disini?" aku merasa perlu untuk mengetahui nama mereka semenjak mereka sudah meneduhkan hari dimana seharusnya aku benar-benar hancur.

"maksud adek?"

"ituloh pak, perempuan sama laki-laki yang barusan ngabisin waktu disini"

dengan wajah bingung si bapak pemancing melihat sekeliling dan kembali melihat wajahku
"yang bapak liat, dari semenjak adek datang kesini, gak ada siapa-siapa lagi yang datang. disini dari tadi yang ada ya cuman adek, bapak sama dua orang pemancing di seberang sana."

aku tertegun.bingung dan tak mengerti. semuanya tampak berbayang. pada akhirnya, aku tak pernah bisa mengerti arti dari semua kejadian yang terjadi di hari ini.


Share on:

ini adalah postingan yang lumayan panjang. jika ingin baca, lebih baik baca semuanya, baca setengah-setengah hanya akan memberikan persepsi yang salah. so, read it or leave it... :)


***

Mengenal seseorang yang bijak adalah anugrah. dan beruntungnya, semasa sekolah SMK dulu saya mengenal satu. saya dan juga beberapa teman sering bermalam di rumahnya untuk belajar. entah itu belajar pelajaran sekolah atau pelajaran kehidupan. semuanya kami pelajari.

dan suatu pagi di sekolah, saya mendapat kesan tidak menyenangkan dari seorang guru. dan selayaknya anak kecil yang tidak mudah terima. saya menumpahkan kekesalan saya di sebuah grup facebook tentang guru tersebut. yang dampaknya, ternyata tidak sekecil yang saya kira.

esoknya, semua siswa dikumpulkan disatu tempat. saya masih santai, pikiran saya, guru-guru hanya akan memberikan sebuah pengumuman tentang kesekolahan. tidak lebih. 

tapi dugaan saya semuanya salah. seorang guru yang namanya saya tulis di grup facebook kemarin maju ke mimbar dan menyebutkan nama saya. menjelaskan betapa tidak baiknya kelakuan saya. dan masih tergambar jelas bagaimana wajah guru tersebut marah semarah-marahnya orang marah. saya gemetar. keringat dingin. dan mau lari dari tempat itu secepatnya. tapi tentu saja tidak bisa.

orang-orang sekarang mungkin menyebutnya sebagai blunder. saya sadar tentang itu. beberapa teman ada yang menyemangati saya. dan tidak sedikit yang menyalahkan saya. sekolah yang luasnya kira-kira sama dengan luas lapangan sepak bola itu tak pernah terasa sesempit ini.

dalam situasi yang jauh dari rasa nyaman ini, satu-satunya yang bisa saya percaya adalah seseorang yang saya maksud di paragraf pertama. malam harinya, saya memutuskan untuk menemui orang itu untuk meminta nasihat.

"kejadian yang kamu alami sekarang itu sama kayak orang yang ngelempar batu ke telaga, Rif... gemericik dan riaknya sangat besar dan bergelombang di awal-awal. tapi seiring berjalannya waktu, gelombang tersebut sedikit demi sedikit akan kembali tenang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. tapi ada satu yang mesti kamu ingat, batunya masih tersisa didalam telaga tersebut." 
penjelasannya di malam itu secara tersirat memberikan saya dua pilihan.

pilihan pertama, saya melupakannya. toh memang benar air tersebut akan tenang kembali seiring berjalannya waktu.

pilihan kedua, yang kemudian saya putuskan untuk saya pilih adalah saya menyelam kedalam telaga dan mengambil kembali batu yang saya lempar. air akan kembali bergelombang, riaknya akan lebih besar dibanding sebelumnya. tapi setidaknya, saya membersihkan telaga tersebut dari batu yang saya lempar. saya mempertanggung jawabkan semuanya.


Share on:
Udah 2013 lagi ya.. artinya udah hampir dua tahun saya jadi perantauan di Ibukota. yang jelas, kalau mau bilang "gak kerasa" ya enggak juga. kerasa banget malah. tapi bagaimanapun juga, waktu yang lalu mau tidak mau pada akhirnya akan jadi kenangan atau pengalaman. dan semoga saja berharga.

bianglala hidup yang saya naiki mungkin sudah menyelesaikan satu putaran penuh. saya pernah merasakan puncaknya, contoh kasarnya ya saya pernah liburan keluar negeri. seneng ya pasti. pengen lagi ya tentu aja. sayang aja kan passportnya kalo cuman dipakai sekali seumur hidup. cerita puncak lainnya, saya juga sudah pernah menjadi trainer di depan pejabat kementerian. meskipun cuman sekali, itu bener-bener pengalaman yang luar biasa. saya bersyukur.

tapi tentu aja, maksud "putaran penuh" diatas berarti saya juga pernah mengalami masa-masa dibawah. masa-masa capek hati pikiran dan tubuh. masa-masa saya menarik nafas panjang dan bergumam "saya gak sanggup ya Allah...". bahkan sampai mempunyai pikiran kalau saya cuman nyia-nyiain waktu aja disini, ngerasa salah jalan dan salah mengambil keputusan. depresi mungkin. saya enggak tahu pasti.

tapi itu semua sudah berlalu, bianglala-bianglala kehidupan yang lain sedang menunggu untuk saya naiki. bianglala yang jauh lebih besar dan tinggi. bianglala yang akan mengombang ambingkan perasaan, terpaan angin dan rasa berdebar akan ketinggian. bianglala dimana seorang Arif Chasan mengukir cerita kehidupannya...

terpaan angin saat di puncak itu mengingatkanku akan semuanya...

Share on:
berjalan kecil dibawah sore gerimis disekitaran semanggi karena diturunkan paksa oleh supir metro mini  640 yang menyerah dengan keadaan jalan yang macet gak karuan dan memutuskan untuk putar arah dibandingkan dengan melanjutkan perjalanannya mengantarkan saya -penumpang- ketempat tujuan yang seharusnya.

saat sedang berjalan kaki memutar trotoar plaza semanggi untuk mendapatkan metro mini lainnya sehingga saya bisa melanjutkan perjalanan saya yang terpotong, saya di cegat oleh seorang pria kumal setelan preman yang ngajak ngobrol. well, atau lebih tepatnya ngajak berantem.

pria kurus tinggi tersebut bener-bener gak bersahabat, "eh, lu anak mana luh?!" "liat saku lu! lu bawa piso gak lu?!" "mau ngapain lu disini?" "kerja dimana lu?!" begitulah summary kata-katanya. saya emang pikir ini gak beres, tapi dia kayaknya gak berusaha buat ngambil barang-barang saya. jadi saya masih ngerasa tenang-tenang aja. tapi dugaan saya salah.

setelah lebih dari 10 menit perhatian saya terpaku pada pria kurus jangkung tersebut. tiba-tiba aja dia memutuskan untuk meninggalkan saya. saya kaget bukan karena dia pergi gitu aja, saya kaget karena ternyata dia gak sendirian. selama ini ada temennya dibelakang saya. dan saya makin kaget ketika tas gendong saya terbuka. dan sebuah handphone blackberry kantor yang seharusnya ada di tas udah gak ada ditempatnya. saya lemes.

saya udah coba kejar kearah terowongan di bawah jalan memutar semanggi tempat dua orang itu pergi. saya  sempat tanya pedagang aksesoris yang menggelar lapaknya disana. dia menunjuk kearah jalan atas. saya menaiki tangga hanya untuk memastikan kalau mereka berdua udah ngilang. mungkin sudah naik bis atau gimana. dan sepertinya memang sudah harus saya ikhlaskan...

buat kamu yang baca tulisan ini, hati-hati aja ya.. biar nanti bisa lebih jaga diri kalau-kalau kena situasi yang sama... :)
Share on:
[Garis Horizon] ah, sepertinya saya mencuri kalimat dari mbak Ninda. Blogger romantis yang susah ditebak pikirannya :D

sebagai programmer, saya sering berangkat pagi pulang malam (tidak jarang juga sampe pagi lagi). pas pulang dan nyampe kosan-pun, saya sering buka laptop lagi sampai akhirnya tertidur dengan sendirinya didepan laptop. sebagai catatan, kegiatan macam itu bisa dikatakan rutin dan tiap hari.

sedikit cerita tentang kosan saya. gambaran singkatnya, kosannya bukan kosan mewah, dengan lantai dari kayu ditingkat dua dan mempunyai lima tetangga. 3 dikiri-kanan, dan dua didepan. penghuninya ada pemuda ada juga yang sudah berkeluarga (anak istrinya tinggal disitu).

karena kamar mandinya ada diluar, saya sering berpapasan dengan tetangga-tetangga saya tersebut. dan seringkali saya melemparkan sapa senyum saat bertatap muka.

dalam pandangan saya, semuanya tampak baik-baik saja...

...tapi hati manusia siapa yang tau

sampai suatu pagi dihari sabtu, ada orang yang sedang mengobrol di lorong kosan. bapak-bapak penghuni kosan didepan saya dan seseorang yang tampaknya akan mengekos disini. dia (si bapak penghuni kosan depan saya) menceritakan detil kosan disini, sampai dia bicara

"nah, penghuni kamar yang ini nih, gak tau kenapa, pulang kerja langsung masuk ke kamar. gak ada basa-basinya, gak pernah ngajak ngobrol sama saya. masa yang tua duluan yang ngajak ngobrol?"

entah dia tau kalau saya ada didalam kamar itu mendengarkan, atau mungkin mengira saya tidak ada disana saat itu, yang jelas, suaranya benar-benar jelas terdengar sampai ke dalam kosan saya. masuk ke telinga saya.

ah.. entahlah.. kalau saya lanjutkan tulisan ini dengan argumen atau pendapat saya pribadi, pasti akan berakhir pada kalimat-kalimat pembelaan saja.

sampai saat ini, saya masih diam.. melakukan hal seperti biasanya.. berangkat pagi.. pulang malam.. dan tetap sapa senyum saat berpapasan..

yang saya sadari sejauh ini sih, seperti air.. lebih mudah membuatnya keruh daripada menjernihkannya... :D
Share on:
[Garis Horizon] ada orang yang hidupnya cuek secuek-cueknya. jangankan buat mikirin orang lain, mikirin dirinya sendiripun kadang susah banget. mandi, makan dan kebutuhan pokok lainnya jadi kebutuhan tersier baginya alias udah gak dianggap penting lagi.

tapi ada juga orang yang hidupnya perhatiaaan (a-nya tiga) banget sama lingkungan sekitarnya. sampai-sampai dia gak mau makan sebelum orang yang disekitarnya kenyang terlebih dahulu. beneran ada loh orang kayak gini. ciyus deh :3

lah terus emang kenapa, Rif?

saya cuman iri pada orang yang memiliki sifat kedua. peduli dan perhatian pada orang-orang sekitarnya. ini saya sadari ketika mengikuti acara ultah blogger bekasi.

waktu itu pembicaranya mbak Silly (@Justsilly) founder @Blood4LifeID yang menerjunkan hidupnya menolong orang-orang membutuhkan darah. saya berkaca-kaca mendengar kisah awal terbentuknya @Blood4LifeID tersebut.



dan yang paling membuat dada saya berdebar juga mata saya berkaca-kaca adalah sekelompok anak muda yang membentuk komunitas "sebuai" atau Sejuta Buku untuk Anak Indonesia. gak pernah terpikir oleh saya untuk mengabdikan hidup menolong anak-anak terlantar dan memberikan mereka buku. terlihat simple, tapi percayalah, kalo kita mau melihat sedikit lebih dekat, kita akan mengerti betapa susahnya menjaga kesolidan komunitas, mengumpulkan dana dan memberikan buku-buku tersebut ke anak-anak yang memang membutuhkan. dan ketika saya melihat komunitas itu, saya tahu kalau mereka berhasil dan membuat banyak anak-anak kurang mampu kembali tersenyum.



disamping semua itu, ada saya yang duduk dikursi peserta, menikmati pertunjukkan dan hiburan. dan tentu saja, merasa kecil dan merasa belum berbuat apa-apa untuk kebaikan sekitar.

oh iya, setelah melihat itu semua, saya kembali positif melihat Indonesia. ditengah-tengah kebusukan orang-orang yang menghamburkan uang rakyat. masih ada komunitas kecil yang memungut satu rupiah demi satu rupiah untuk kebaikan bersama. untuk memberikan senyum bagi mereka yang sulit tersenyum.


Share on:
[Garis Horizon] manusia itu sifat dasarnya emang pengen yang enak-enak. siapa sih yang mau hal-hal yang gak enak. makan kulit kerang misalnya? bukannya nikmatin, yang ada keselek.

manusia juga seneng banget yang namanya eksklusifitas *ini kata ngarang, gak tau bener gak tau kagak*. pengennya yang eksklusif-eksklusif, limited edition, dan berbeda dari yang umum. ini bukan cuman berlaku di barang atau jasa. tapi juga fasilitas.

ceritanya, saya yang langsung kerja di Jakarta setelah kelulusan telat ngambil ijazah di sekolah. pada saatnya, ada waktu libur lumayan panjang buat ngambil tu ijazah. soalnya, tahun ini kayaknya saya bakalan lanjutin sekolah ke perguruan tinggi dan ngambil kelas karyawan. dan sudah barang tentu ijazah SMK saya sangat diperlukan disini.

pas di hari H nya. biasalah, ada beberapa hal yang musti diberesin di bagian administrasinya. nah, sialnya saya ternyata di hari itu juga hampir semua siswanya lagi ngurusin administrasi buat ngambil rapot semesteran. dan karena saya datangnya agak siangan, jadi deh saya di antrian paling belakang. -_-

saat lagi duduk nunggu di antrian bejibun, saya liat kepala sekolah lagi jalan ke arah antrian. dan sebagai alumni yang baik, saya cium dong tangannya. dan sempet ngobrol-ngobrol bentar. tentang kerjaan saya sekarang dan tujuan saya kemari.

eh, gak disangka, abis saya bilang mau ngurusin administrasi buat ngambil ijazah. pak kepala sekolah langsung ngerangkul saya. bawa saya nembus antrian yang panjang dan didudukin tepat di tempat resepsionis.

"tolong dilayanin duluan ya tamu kita ini." kata pak kepsek ke mbak resepsionis sambil sedikit bercanda dan belalu gitu aja keluar ruangan.

"heh?"

saya heran, bener-bener heran. tapi ya mau gimana lagi, si mbak resepsionisnya juga senyum-senyum aja sambil ngelayanin saya.

nyaman, cepet, dan praktis. itu yang saya rasain. tapi musti dibayar dengan tatapan-tatapan bingung siswa satu sekolahan yang antri. mungkin ada siswa yang berpikir. "sialan, gue antri dari pagi ampe sekarang aja belum dilayanin, lah dia baru aja dateng langsung beres".

mungkin, apa yang saya alami merupakan skala kecilnya yang anggota DPR terhormat alami. tiap hari di fasilitasi untuk menembus jalanan macet dengan cepat. menyuruh orang lain berhenti dan terpaksa mengantri dijalan yang panas hanya untuk membiarkan iring-iringan mobil hitam mewah lewat di depan hidung.

nyaman sih, cepet, praktis juga. tapi tatapan-tatapan orang yang berkeringat didalam metro mini yang panas. dan nggak sedikit juga yang nyumpahin.

kalo saya sih malu...
Share on:
Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke Mekkah,
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di Miraza,
Tetapi aku ingin menghabiskan waktuku disisimu sayangku..
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mandala wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu manisku
...
-Soe Hok Gie

itu hanyalah sepenggal syair dari Gie yang mungkin anak-anak "gaul" sekarang menyebutnya galau maksimal.
saya juga mengakuinya, kalaulah Rhoma Irama itu raja dangdut. Soe Hok Gie pastilah yang menduduki takhta raja galau. dan memang demikianlah adanya.

oya, kayaknya ada sedikit perubahan makna dalam kata "galau" tersebut. di KBBI galau itu sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran). gak ada sedikitpun makna cinta-cintaan di dalamnya. jadi please, saat ada status facebook atau tweet yang berbunyi "kangen", "sayang", dan sebagainya komentar atau RT'nya bukan "cieee.. lagi galau nih". gak nyambung. kasian sama guru bahasa indonesia waktu di SMA. :D


balik ke sosok Gie si raja galau.


ada satu cerita tentangnya yang membuat setiap lelaki angkat topi jika mengetahuinya. kisah klasik dimana Gie pernah jatuh hati pada sosok wanita bernama Kartini atau panggilan akrabnya Ker. namun, kenyataan yang pahit adalah ia harus rela kalau jodoh Ker adalah sahabatnya sendiri yang bernama Ciil. lantas apa yang dilakukan Gie? layaknya penyair sejati. ia merelakannya dan berakhir dalam kesendirian.


Manisku, aku akan jalan terus
Membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
Bersama hidup yang begitu biru
-Soe Hok Gie
Share on:
[Garis Horizon] tanggal 27 februari kemarin saya gak sengaja keundang di acara "sarapan sambil ngobrolin cinta" alias Blogger Bicara Cinta yang diadain sama blogdetik. oya, waktunya juga pas banget sama trans jakarta yang berulang tahun. jadi urusan ongkos dan sarapan gratis saya dihari itu gak usah diomong-omongin lah ya.. :D

acaranya seru, lucu, dan asik lah pokoknya, semua yang hadir ibaratnya jadi narasumber soal masalah cinta-cintaan ini. karena emang, bentuk acaranya kayak diskusi terbuka gitu. semua pendapat dikeluarin. dari hal sepele sampe *ehem* masalah 21 tahun keatas -_-

ngomong-ngomong soal cinta, boleh dikatakan kalau cinta pertama saya itu PC Intel Pentium 2 dengan Sistem Operasi Windows 98 bajakan :D

pertama kali banget saya nyentuh tu barang, tangan saya gemeter. takut rusak.
disana saya curahin semua tulisan alay saya (waktu itu saya masih kelas 1 SMP) dalam microsoft office 2003 yang ngetik satu baris aja bisa ngabisin waktu 17 windu. :D

pertama kali beli tabloid PC Media seharga 35 ribu cuman buat install semua freeware yang tercantum didalamnya. hingga akhirnya hang dan harus dibawa ke service PC.

sampe saat ini, PC tersebut gak kejual. udah gak laku -_-
tapi masih kesimpen rapi dipojokan rumah. mungkin debunya udah satu liter dan jadi rumah mewah bagi laba-laba, semut, dan serangga-serangga kecil lainnya.

dan sekarang saya jatuh cinta dengan laptop Acer Core i3 dengan Sistem Operasi Windows 7 Ultimate.

***

yang saya sadari, cinta pertama mungkin emang bukan yang terbaik. tapi kenangannya bisa saya sebut "unik". gak semudah itu buat dilupain. :)

just a love letter for my first love...

Share on:
[Garis Horizon] udah sekitaran delapan bulan saya menggeluti dunia programming secara professional. professional disini maksudnya saya punya target penyelesaian suatu aplikasi-kontrak-UAT (User Acceptable Test) dan tetek bengek lainnya. jadi saya gak ngasal bikin aplikasi yang biasanya gak tau darimana mulainya dan bakal jadi apa nantinya (seperti yang sering saya lakukan dulu waktu kelas dua atau tiga SMK).

proses pembuatannya aplikasinya, saya diibaratkan sebagai seorang koki alias juru masak.

user (seseorang yang nantinya akan memakan makanan kita sehari-harinya) tentu memiliki keinginan dan seleranya sendiri untuk bisa memuaskan lidah serta perutnya.

seorang user bebas-bebas aja meminta makanan(request) yang menurutnya enak.

dia tinggal bilang "tolong rasanya agak manis-manis tapi asin".

menerima permintaannya, tentu saya akan sangat berhati-hati memasukkan gula dan garam kedalam masakan. dan menjadi sulit karena saya tidak memiliki selera yang sama dengan si user. dan seringnya untuk mengerti kata "agak manis" pun menjadi tugas yang merepotkan. bolak balik dengan takaran gula dan garam yang berbeda-beda tapi tetap saja ditolak.

"masih kurang pas" katanya.

dan setelah mengalami perjuangan yang berat dan dirasa cukup bisa "memuaskan" lidah user tersebut. saya harus dihadapkan pada kenyataan bahwa user itu tidak seorang diri.

singkatnya, saya harus membuat satu jenis makanan yang bisa dikategorikan enak oleh belasan user yang memiliki perbedaan selera makan dan keinginannya terhadap rasa.

dan tentu saja dengan bumbu, bahan baku, dan dipenggorengan yang sama.

hidup ini memang indah!!! :D
Share on:
[Garis Horizon] awal tahun ini lumayan asik. tepatnya tanggal 31 januari kemarin saya bisa merasakan liburan dua hari ke negeri merlion. standard-standard aja sih. disana cuman sempet ke universal studios-sentosa-bugis-botanical garden-chinatown-merlion park. udah. abis itu pulang lagi deh ke indonesia. :D

dan biasa lah, abis pulang dari singapore, rutinitas wajibnya adalah upload foto narsis di aplikasi web yang mulai membosankan bernama facebook. :D

nah, dari situ mulai banyak deh yang "like" dan komen aneh-aneh di foto-foto yang saya upload. kebanyakan komen gak penting. karena emang mayoritas teman saya kocak-kocak. jadi inget dulu waktu sekolah, kita adalah murid yang paling tidak taat sama aturan. dikit-dikit protes dan nanya "ini buat apa?", "kok gitu?" atau "emang penting ya ngadain yang begituan?". dan saya sadari betapa ngeyelnya kita-kita ini. :D

balik ke masalah upload-upload-an.

semenjak saya upload foto-foto saya yang berlatar belakang singapura, banyak yang nanya langsung kesaya (bukan temen deket saya) "itu beneran kamu ke singapur?" melalui fasilitas chatting-nya facebook.

saya ya jawabnya iya-iya aja. gak ada pikiran apa-apa.

sampai saya liat status temen saya tersebut beberapa saat setelah percakapan itu berakhir. kurang lebih maksudnya "apa yang musti dibanggakan dari singapura, kan negara itu bla bla bla..."

saya gak komen. diem aja.

sampai ada lagi (orang yang berbeda) membuat status di akun facebooknya "sombong udah bisa ke sana aja bla bla bla..."

haaaah!..

senyum dikit. dan sayapun kembali ke rutinitas saya biasanya... :D


Share on:
[Garis Horizon] Madrasah Tsanawiyah (disingkat MTs) adalah jenjang dasar pada pendidikan formal di Indonesia, setara dengan sekolah menengah pertama, yang pengelolaannya dilakukan oleh Departemen Agama. Pendidikan madrasah tsanawiyah ditempuh dalam waktu 3 tahun, mulai dari kelas 7 sampai kelas 9. bla.. bla.. bla.. 

kalo mau lanjut baca tentang Madrasah Tsanawiyah, klik aja wikipedianya di sini. saya hanya akan bercerita sedikit tentang sekolah agama sederajat SMP *begitu saya menyebutnya* itu.

saya pernah bersekolah tiga tahun di MTs Negeri Subang. sesaat setelah lulus SD, orang tua langsung mendaftarkan saya ke sekolah itu. "biar paham agama" kata bapak saya waktu itu.

hari pendaftaran dipagi hari sepi. cuman ada saya dan tiga orang lainnya yang duduk menunggu didaftarkan orang tuanya masing-masing. tanpa testing, tanpa wawancara, dan tanpa ada kesulitan sama sekali. saya langsung berstatus siswa MTs Negeri Subang saat itu juga. hmmm

saya masih keliling-keliling sendirian liat-liat bangunan yang nantinya akan saya gunakan sebagai tempat belajar saya selama tiga tahun itu. dan bapak saya sudah pulang duluan. sebagai PNS ia mau melanjutkan kerjanya sepertinya.

tepat sebelum jam dua belas. saat saya duduk di teras mushola. tiba-tiba keadaan jadi riuh. ada ratusan calon siswa baru yang ingin mendaftar. "woah hebat, banyak banget peminatnya". batin saya waktu itu.

***

ironic, mungkin itu kata yang pas setelah mendengar cerita teman-teman sekelas saya setelah beberapa bulan kegiatan belajar mengajar dimulai. mereka bercerita kalau sebenarnya mereka terpaksa masuk MTs. mereka memasukkan MTs kedalam pilihan ketiga mereka saat mendaftar ke sekolah lanjutan tingkat pertama. alias memang tidak ada pilihan lain.

iya, mereka awalnya tidak diterima oleh SMP yang menjadi pilihan pertama mereka. mereka bahkan tidak diterima SMP pilihan keduanya. jadilah MTs sebagai pilihan akhirnya. "daripada gak sekolah" kata teman saya. saya bengong.

dan saya baru ngeh kalau itulah alasan mereka baru mendaftar ke MTs di jam-jam siang mendekati sore.

dan ada satu lagi mindset di kepala orang tua tentang MTs. yaitu sebagai bengkel tempat memperbaiki anaknya yang rusak moral. atau bahasa lembutnya "nakal".

dan asal tau aja wahai orang tua, anggaran daerah yang dialokasiin buat MTs tuh gak sebanyak SMPN populer *setidaknya di tempat saya*. terbukti dengan sedikitnya tenaga guru, bangku reyot, dan atap bocor. HAH!

jadilah MTs itu :

  1. dipenuhi siswa yang bahkan tak ingin belajar di MTs
  2. dipenuhi siswa yang nakal alias rusak moral
  3. keterbatasan sarana yang diikuti oleh membludaknya siswa *dimana MTs tidak pernah menolak siswa - lha wong pilihan terakhir*
  4. banyak siswa yang dikeluarkan ditahun keduanya. *mengacu pada point 1 dan dua*.
well, saya berterima kasih pada orang tua yang memasukkan anaknya ke MTs bukan karena alasan "tidak ada pilihan lain" dan "anaknya rusak moral". 

kasian sama gurunya. 
Share on:
[Garis Horizon] BeTe berat ketika bandwidth yang kita sewa habis gara-gara BOT spam yang gak jelas juntrungannya.

emang sih gak signifikan. tapi ya kalo sampe dikirim ratusan komentar perhari berisi link-link gak jelas ya jadi dongkol juga kan akhirnya.

untung aja mesin wordpress itu lumayan canggih. jadi kalo ada komentar yang dicurigai sebagai spam. gak otomatis diterbitin. tapi nunggu dulu moderasi saya sebagai empunya.

ini web admin saya :

klik gambar biar agak jelasan dikit

tapi koq masih aja ada yang lolos ya?
kayak screenshot dibawah :

kalo mau gedein gambarnya, klik aja
akhirnya saya edit juga tuh komentar sampah jadi kayak gini.

oh ya, itu blog knowledge base saya yang dihosting dan domain berbayar. kalau ada yang mau ngintip atau sukur-sukur mau belajar hal baru. silahkan tengok aja di alamat http://belajaropenlayers.com/


any advice welcome
Share on:
[Garis Horizon] pernah saya baca artikel motivasi yang sekarang banyak banget dikopas sama blog ataupun thread kaskus. ceritanya bagus. tapi intinya, hidup akan sangat indah dikala kita bisa mencintai apa-apa yang kita kerjakan.

well, here we go :


sedikit tentang pekerjaan saya :
  1. saya seorang programmer
  2. deadline itu sahabat sejati saya 
  3. masuk pukul sembilan pagi dan pulang sering diatas jam 10 malam
  4. menjadi programmer membuat saya kurang tidur dan selalu terbangun dengan kepala pusing
  5. libur adalah sesuatu yang mahal
  6. bahkan ketika liburpun kepala ini tetap memikirkan pekerjaan yang belum beres
  7. kadang selalu dibikin ruwet oleh permintaan aneh dari user
  8. pekerjaan saya membuat kantung mata saya menghitam dan menguap dikala jam makan siang
buruk ya pekerjaan saya?

tapi entah kenapa saya sangat menikmatinya dan tetap bisa tersenyum saat mengerjakannya.

 

i am trully falling in love with my job... 

Share on:
  • ← Previous post
  • Blogging is not only about posting. It is about your heart who took part in every post that you type.
140x140

@arifchasan

Blogger, Programmer and tired all the time
Categories
  • artikel (73)
  • cerita (50)
  • doodling (10)
  • elegi (6)
  • journey (34)
  • ngawur (55)
  • opini (31)
  • puisi (18)
  • sehari-hari (51)

My Families

  

My Friends

  • Home
  • About
  • Beli Pulsa
Copyright © Garis Horizon