Kamis, 04 September 2014

what a life

saya sangat bersyukur. sungguh-sungguh bersyukur.
saya mau cerita sedikit tentang hal-hal yang membuat saya benar-benar bersyukur.

saya mempunyai keluarga yang sangat suportif. kalau melihat kebelakang, waktu umur saya masih dibawah jumlah total jari tangan, saya tidak pernah dimarahi kalau pulang ke rumah dalam keadaan kotor akibat main bola hujan-hujanan. justru saya akan dimarahi besar-besaran kalau berbohong sama orang tua saya. bagi saya yang sekarang, ini benar-benar pelajaran yang sangat berharga.

saya kemudian masuk SD, MTs, dan SMK. semua sekolah yang saya tempati itu semuanya adalah pilihan saya. memang orang tua dan beberapa orang memberikan masukan, tapi keputusan akhirnya tetap ada di tangan saya.

juga ketika akhirnya saya lulus SMK dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta, orang tua saya mendukung penuh keputusan saya tersebut.

di Jakarta inilah saya benar-benar belajar tentang hidup dan mengerti bagaimana dunia bekerja. jatuh bangun, susah senang, sakit sehat semuanya saya alami di Jakarta ini. bahkan rasa iri dan syukurpun saya baru benar-benar rasakan ketika hidup di sini.

boleh dibilang, beberapa minggu kebelakang saya baru mulai serius membangun hidup saya. dimulai dengan keputusan mencicil rumah diwilayah cileungsi, bogor. seperti biasa, begitu mendengar keputusan saya, kedua orang tua saya selalu suportif. justru malah ada teman yang "meragukan" keputusan saya dan menjabarkan sederet kerugiannya ketika saya pindah ke rumah cicilan saya sendiri dan setiap harinya harus pulang pergi kantor- rumah. saya senyum saja.

memang rumahnya jauh dari kata mewah dan kekurangannya banyak.. tapi ketika semuanya dari hasil tenaga sendiri dan tidak kekurangan ucapan syukur, semuanya sungguh manis.. betul kok :)

terakhir, kalau kebetulan ada yang lagi disekitaran cileungsi, bogor. monggo hubungi saya, kita ngeteh dan ngopi sambil cerita-cerita diberanda rumah kecil saya..


Kamis, 14 Agustus 2014

[Cerpen] Ekspektasi



Sudah tiga jam ia diam tanpa suara di sudut kamar ini. yah, kalau memang tempat ini masih bisa disebut kamar sih. secara statistik, 98% bagian isi rumah tak ada yang tak rusak. secara sekilaspun kamu bisa melihat meja terbalik, televisi pecah, patahan kaki kursi yang tersangkut di lampu pijar (entah bagaimana bisa seperti itu), dan pecahan-pecahan kaca juga barang elektronik yang memenuhi lantai. dan jika ingin jeli sedikit saja, ada sedikit darah di beberapa beling yang terserak di lantai.

8 Jam sebelumnya

Sekitar jam satu siang, terlihat Arya sedang duduk di sebuah lobby terminal internasional bandara Soekarno - Hatta. dari raut mukanya, ia terlihat sedikit gelisah. atau mungkin kata yang lebih tepat adalah ia sedang gugup maksimal. tangannya tak henti-hentinya memainkan kotak kecil bermotif polkadot dengan pita ungu menempel tak rapih diatasnya. walaupun ini sudah menjadi kebiasannya semenjak 6 bulan terakhir, dan ia sudah hapal betul suasana lobby yang AC nya masih saja rusak sejak pertama kali ia kesini, ia tetap saja tak bisa menghilangkan perasaan gugupnya. rasa gugup karena ia akan segera bertemu dengannya sebentar lagi.

Sudah sekian kali Arya melihat jam di smartphonenya juga mendongak untuk melihat jam digital besar yang menempel di tembok lobby memastikan tak ada yang salah dengan posisi waktunya sekarang. semakin dipastikan malah semakin membuat Arya gelisah. kali ini benar-benar gelisah. karena seharusnya semua alasan ia untuk kemari itu sudah selesai 47 menit yang lalu.

Arya bangun dari tempat duduknya untuk melihat sekeliling dengan jeli. meskipun ramai, ia seharusnya bisa mengenalinya meskipun dari jauh jika melihatnya. merasa usahanya nihil, ia kembali duduk dan membuka aplikasi messenger di smartphonenya:

Zahra said:
aku baru take off nih, tunggu yah :) - 7 hours ago

You wrote:
okee :) - 7 hours ago

You wrote:
kamu di mana? - a few minutes ago !not sent

Mungkin masih di pesawat dan dia masih mengaktifkan aiplane mode di smartphonenya. sehingga pesannya tidak terkirim. batin Arya optimis. lagipula kalau diingat-ingat, ia belum mendengar pengumuman ada pesawat yang landing dari tadi. jadi mungkin ada delay dan memang ia belum mendarat. deduksi Arya menenangkan diri. diapun memutuskan untuk tenang dan duduk merebah. menunggunya. sedikit lebih lama.

Sebuah mimpi terjatuh membangunkan Arya dan iapun kaget menyadari dirinya tertidur di kursi lobby bandara. melihat jam dinding digital besar, rangkaian kekagetannya berlanjut. ia ternyata sudah ketiduran selama 3 jam lebih. buru-buru ia beranjak dari kursinya dan melihat sekeliling. tak ada tanda-tanda orang yang ditunggunya sudah datang, diapun lantas membuka aplikasi messengernya, tak ada pesan baru. rasa gugupnya kini hilang dan berganti dengan rasa khawatir dan cemas. tanpa menunggu waktu, ia pun segera pergi mengarah ke bagian informasi bandara, menanyakan apakah penerbangan pesawat Garuda 747 yang ditumpangi Zahra, kekasihnya. sudah mendarat.

Saat berjalan, sebuah televisi yang tertempel di salah satu dinding sudut bandara tersebut menarik perhatiannya. bukan apa-apa, ia tak sengaja melihatnya karena televisi tersebut sedang dikerubungi oleh orang-orang. beberapa diantaranya ada yang menonton televisinya sambil menangis. Aryapun mengenyitkan alisnya dan melihat layar televisi tersebut lebih jelas. sebuah berita kecelakaan pesawat sedang tersiar saat itu.

Dengan seluruh tubuh yang bergetar, ia menghampiri layar televisi tersebut. sebuah berita kecelakaan pesawat Garuda 747 sudah menjadi headline utama berita-berita televisi nasional tanah air. pesawat yang sama yang Zahra tumpangi. kesadaran Aryapun menggelap.

Arya masih menatap kosong langit melalui jendela kamarnya yang pecah, ia masih tak sadar kalau kakinya masih meneteskan darah karena menginjak beling yang berserakan dilantai. rasa sakit fisik sepertinya tak berguna jika rasa sakit dihatinya sudah sangat besar. di hari itu, ia merasa, alasannya untuk hidup sudah jatuh bersama pesawat yang membawa kekasihnya dari dunia ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

Senin, 04 Agustus 2014

halo

hari ini hari pertama kerja lagi setelah libur panjang lebaran. belum banyak kerjaan yang dikerjakan hari ini, yang ada saya malah jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu yang cukup membuat hati saya hangat.

jadi begini... setiap pagi, saya biasa jalan kaki untuk mencapai tempat kerja. sekitar 20 menitan lah. menyeberang jalan dua kali dan melewati kolong flyover mampang prapatan.

nah, di kolong flyover ini (fyi) banyak kucingnya, mungkin udah lebih dari tujuh turunan kucing dari berbagai klannya masing-masing yang menjadikan flyover ini tempat tinggalnya. pokoknya, setiap lewat sana, saya rasa saya selalu ketemu kucing baru. yang ngajak kenalan sama saya :|

anyway, satu waktu saya pulang dari kantor, dan lewat kolong flyover tentunya, dari jauh saya melihat seorang perempuan paruh baya dengan dandanan pekerja kantor pada umumnya duduk sambil di rubung kucing-kucing penghuni flyover tersebut. semakin saya mendekat, saya jadi tahu kalau si ibu tersebut sedang membagikan whiskas (makanan kucing) ke kucing-kucing yang mengerubunginya.

duh, siapa yang nggak tersentuh coba lihat pemandangan kayak gitu.. ia juga terlihat sangat akrab dengan belasan kucing tersebut, tebakan saya sih, dia sudah rutin melakukan kegiatan tersebut, saya aja yang baru pertama kali melihatnya.

the thing is.. yang membuat saya takjub adalah, dengan melakukan hal-hal kecil seperti itu, ternyata bisa menjadi bahan bakar yang pas ya buat menghangatkan hati...

untuk ibu pembawa whiskas, dimanapun kamu berada, panjang umur dan sehat selalu yaa..


 

Statistics



Check PageRank

Profile

Foto Saya
Blogging is not only about posting. it is about your heart who took part in every post that you type -Arif Chasan.

Google Friend Connect

© Copyright 2010 - 2012. garishorizon.blogspot.com . All rights reserved | garishorizon.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com
Template by o-om.com - zoomtemplate.com | dan diutak-atik seperlunya oleh Arif Chasan