Kamis, 14 Agustus 2014

[Cerpen] Ekspektasi



Sudah tiga jam ia diam tanpa suara di sudut kamar ini. yah, kalau memang tempat ini masih bisa disebut kamar sih. secara statistik, 98% bagian isi rumah tak ada yang tak rusak. secara sekilaspun kamu bisa melihat meja terbalik, televisi pecah, patahan kaki kursi yang tersangkut di lampu pijar (entah bagaimana bisa seperti itu), dan pecahan-pecahan kaca juga barang elektronik yang memenuhi lantai. dan jika ingin jeli sedikit saja, ada sedikit darah di beberapa beling yang terserak di lantai.

8 Jam sebelumnya

Sekitar jam satu siang, terlihat Arya sedang duduk di sebuah lobby terminal internasional bandara Soekarno - Hatta. dari raut mukanya, ia terlihat sedikit gelisah. atau mungkin kata yang lebih tepat adalah ia sedang gugup maksimal. tangannya tak henti-hentinya memainkan kotak kecil bermotif polkadot dengan pita ungu menempel tak rapih diatasnya. walaupun ini sudah menjadi kebiasannya semenjak 6 bulan terakhir, dan ia sudah hapal betul suasana lobby yang AC nya masih saja rusak sejak pertama kali ia kesini, ia tetap saja tak bisa menghilangkan perasaan gugupnya. rasa gugup karena ia akan segera bertemu dengannya sebentar lagi.

Sudah sekian kali Arya melihat jam di smartphonenya juga mendongak untuk melihat jam digital besar yang menempel di tembok lobby memastikan tak ada yang salah dengan posisi waktunya sekarang. semakin dipastikan malah semakin membuat Arya gelisah. kali ini benar-benar gelisah. karena seharusnya semua alasan ia untuk kemari itu sudah selesai 47 menit yang lalu.

Arya bangun dari tempat duduknya untuk melihat sekeliling dengan jeli. meskipun ramai, ia seharusnya bisa mengenalinya meskipun dari jauh jika melihatnya. merasa usahanya nihil, ia kembali duduk dan membuka aplikasi messenger di smartphonenya:

Zahra said:
aku baru take off nih, tunggu yah :) - 7 hours ago

You wrote:
okee :) - 7 hours ago

You wrote:
kamu di mana? - a few minutes ago !not sent

Mungkin masih di pesawat dan dia masih mengaktifkan aiplane mode di smartphonenya. sehingga pesannya tidak terkirim. batin Arya optimis. lagipula kalau diingat-ingat, ia belum mendengar pengumuman ada pesawat yang landing dari tadi. jadi mungkin ada delay dan memang ia belum mendarat. deduksi Arya menenangkan diri. diapun memutuskan untuk tenang dan duduk merebah. menunggunya. sedikit lebih lama.

Sebuah mimpi terjatuh membangunkan Arya dan iapun kaget menyadari dirinya tertidur di kursi lobby bandara. melihat jam dinding digital besar, rangkaian kekagetannya berlanjut. ia ternyata sudah ketiduran selama 3 jam lebih. buru-buru ia beranjak dari kursinya dan melihat sekeliling. tak ada tanda-tanda orang yang ditunggunya sudah datang, diapun lantas membuka aplikasi messengernya, tak ada pesan baru. rasa gugupnya kini hilang dan berganti dengan rasa khawatir dan cemas. tanpa menunggu waktu, ia pun segera pergi mengarah ke bagian informasi bandara, menanyakan apakah penerbangan pesawat Garuda 747 yang ditumpangi Zahra, kekasihnya. sudah mendarat.

Saat berjalan, sebuah televisi yang tertempel di salah satu dinding sudut bandara tersebut menarik perhatiannya. bukan apa-apa, ia tak sengaja melihatnya karena televisi tersebut sedang dikerubungi oleh orang-orang. beberapa diantaranya ada yang menonton televisinya sambil menangis. Aryapun mengenyitkan alisnya dan melihat layar televisi tersebut lebih jelas. sebuah berita kecelakaan pesawat sedang tersiar saat itu.

Dengan seluruh tubuh yang bergetar, ia menghampiri layar televisi tersebut. sebuah berita kecelakaan pesawat Garuda 747 sudah menjadi headline utama berita-berita televisi nasional tanah air. pesawat yang sama yang Zahra tumpangi. kesadaran Aryapun menggelap.

Arya masih menatap kosong langit melalui jendela kamarnya yang pecah, ia masih tak sadar kalau kakinya masih meneteskan darah karena menginjak beling yang berserakan dilantai. rasa sakit fisik sepertinya tak berguna jika rasa sakit dihatinya sudah sangat besar. di hari itu, ia merasa, alasannya untuk hidup sudah jatuh bersama pesawat yang membawa kekasihnya dari dunia ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

Senin, 04 Agustus 2014

halo

hari ini hari pertama kerja lagi setelah libur panjang lebaran. belum banyak kerjaan yang dikerjakan hari ini, yang ada saya malah jadi ingat kejadian beberapa waktu lalu yang cukup membuat hati saya hangat.

jadi begini... setiap pagi, saya biasa jalan kaki untuk mencapai tempat kerja. sekitar 20 menitan lah. menyeberang jalan dua kali dan melewati kolong flyover mampang prapatan.

nah, di kolong flyover ini (fyi) banyak kucingnya, mungkin udah lebih dari tujuh turunan kucing dari berbagai klannya masing-masing yang menjadikan flyover ini tempat tinggalnya. pokoknya, setiap lewat sana, saya rasa saya selalu ketemu kucing baru. yang ngajak kenalan sama saya :|

anyway, satu waktu saya pulang dari kantor, dan lewat kolong flyover tentunya, dari jauh saya melihat seorang perempuan paruh baya dengan dandanan pekerja kantor pada umumnya duduk sambil di rubung kucing-kucing penghuni flyover tersebut. semakin saya mendekat, saya jadi tahu kalau si ibu tersebut sedang membagikan whiskas (makanan kucing) ke kucing-kucing yang mengerubunginya.

duh, siapa yang nggak tersentuh coba lihat pemandangan kayak gitu.. ia juga terlihat sangat akrab dengan belasan kucing tersebut, tebakan saya sih, dia sudah rutin melakukan kegiatan tersebut, saya aja yang baru pertama kali melihatnya.

the thing is.. yang membuat saya takjub adalah, dengan melakukan hal-hal kecil seperti itu, ternyata bisa menjadi bahan bakar yang pas ya buat menghangatkan hati...

untuk ibu pembawa whiskas, dimanapun kamu berada, panjang umur dan sehat selalu yaa..


Jumat, 11 Juli 2014

mungkin sudah bukan manusia lagi

geram deh. satu bulan terakhir saya jadi tahu sifat asli orang-orang (bahkan yang dekat) gara-gara pilpres ini.

entah mungkin gimana, kok orang-orang jadi gampang banget ya ngomong kasar, menghina dan mencaci. duh ya Allah.. dulu perasaan susah banget deh nyari cacian. kalaupun ada tulisan cacian dan hinaan, itu terkumpulnya di website-website debat kusir yang memang peruntukkannya menghina dan SARA. dan kita gak akan menemukannya kalau ngga mencarinya.

yang bikin lebih sedihnya lagi, semua hinaan dan cacian itu mengakar dan seolah-olah orang yang berseberangan dengannya itu bukan manusia. contohnya:

[tentang gaza]
A: innalillahi, kejam banget israel itu
B: si juki ngapain nih kalo soal beginian?
A: paling bilang ra popo

dear teman-teman yang baik, saya yakin, baik pak prabuwi maupun pak juki, kalau melihat ada manusia lain yang sedang dibantai, berdarah dan keadaannya seperti saudara kita di jalur gaza sana, saya yakin setidaknya mereka pasti berdo'a. meskipun di dalam hati.

menurut saya, menjadi calon presiden sepertinya tidak akan membuat hati seseorang menjadi dingin (dalam artian kejam/tidak punya perasaan). kok justru malah yang menjadi pendukungnya yang hatinya jadi dingin?


 

Statistics



Check PageRank

Profile

Foto Saya
Blogging is not only about posting. it is about your heart who took part in every post that you type -Arif Chasan.

Google Friend Connect

© Copyright 2010 - 2012. garishorizon.blogspot.com . All rights reserved | garishorizon.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com
Template by o-om.com - zoomtemplate.com | dan diutak-atik seperlunya oleh Arif Chasan