Jumat, 29 April 2016

Tentang spoiler



Secara definisi, Spoiler itu maksudnya tulisan atau keterangan yang membeberkan cerita sebuah buku, film, atau media lain (wiki).  Dan bagi kebanyakan orang, tukang spoiler adalah jenis manusia yang pantas menerima hukuman cambuk seratus kali. di wajah. dengan kabel besi panas.

Tapi bagi kebanyakan orang lainnya, mengungkapkan spoiler suatu cerita, contohnya film rating tinggi yang baru tayang adalah hal mengasyikkan. Bisa disebut prank yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang bisa mendapatkan kesempatan menonton lebih awal. Merasa superior dan tertawa lebar setelah bilang "tau ngga ending film Seribu Tahun Menjomblo? si Arif mati" misalnya.

Saya contohin di film aja ya. 

Gini loh, bikin film itu effortnya sangat tinggi. Sebuah cerita akan jauuuh lebih menarik jika disajikan sesuai arahan direktornya. Dalam satu adegan di mana si Arif menggantung di tepi jurang, akting dengan ekspresi maksimal yang dibayar mahal, set lokasi yang sangat dramatis, dan eksekusi adegan yang akhirnya Arif jatuh ke jurang dengan imposibble shot kamera yang digantung ditengah-tengah tepi jurang. Ngga lupa bahwa adegan tersebut di shot berminggu-minggu untuk mendapat 10 menit screentime. PASTI. Kita semua yang membayar karcis bioskop merasa terpuaskan.

Tapi apa jadinya kalau sehari sebelumnya ada putu kupret yang nyeritain hal tersebut tanpa effort sama sekali. Dramatisir dan penggambaran yang ala kadarnya cerita langsung. terus akhirnya kita dapat kesempatan nonton sendiri, kepuasan menonton sangat jauh berkurang. 

Film dan buku adalah media cerita. Kita penikmatnya ingin dibawa seperti roller coaster sesuai arahan pengarangnya. Bukannya malah diceritain putu kupret ngga nyeni.

Sabtu, 20 Juni 2015

Momen terakhir...

Suasana malam ini begitu bagus. di suatu tempat makan dengan tema saung sunda. disajikan makanan nikmat di atas meja. dan ada kamu duduk di hadapanku. setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kamu yang bisa kubilang sebagai cinta monyet. juga bisa diartikan sebagai cinta pertama. entah bagaimana, kita bisa mendapatkan momen ini. yang dalam 10 menit pertama pertemuan kita setelah bertahun-tahun tidak bertemu, kita sama-sama menyimpulkan kalau kita belum banyak berubah. yang jelas senyummu masih sama

Sama seperti dulu, saat bersama seperti ini, kita tidak pernah bercerita banyak. saling diam sesekali tersenyum. bercerita tentang satu tema, dan berakhir kurang dari 10 menit. saling diam lagi. cerita tentang tema lain.. begitu seterusnya.

Tapi malam ini agak berbeda. kamu membawa cerita bahagia dalam pertemuan ini. yaitu dalam waktu dekat, kamu akan melangsungkan pernikahan.

Beberapa kali aku ke belakang hanya untuk menghembuskan nafas berat. ngga enak kalau melakukannya di hadapanmu yang sedang berbahagia. entahlah, dari lubuk hati yang paling dalam, aku benar-benar ikut bahagia mendengar kabar itu. tapi justru entah itu kenangan atau perasaan yang memenuhi rongga dada sampai-sampai terasa sesak. aku tak ingin terlalu memikirkannya.

Menit-menit berikutnya kita bercerita tentang masa lalu. tidak ada yang tidak bisa dibicarakan kalau menyangkut dengan masa lalu dan kenangan. ada beberapa cerita yang aku sendiri baru tahu, selebihnya adalah kenangan tentang seorang anak kecil yang sedang jatuh cinta. saat ini, di momen ini. kita sudah sama-sama dewasa dan sama-sama menertawakan anak kecil itu.

Mungkin malam ini adalah momen terakhir kita bisa duduk berdua bersama lagi. tapi untuk selanjutnya, izinkan aku ikut mengiringi hidup bahagiamu dengan do'a-do'aku yang kusampaikan pada langit. mungkin di suatu waktu di masa depan, kita akan bertemu lagi dan sama-sama menertawakan momen ini. entahlah...


Rabu, 18 Maret 2015

Hidup bermasyarakat

[Garis Horizon] Sampai hari ini, sudah hampir dua bulan saya menempati rumah di Cileungsi, Kab. Bogor.

Bagi yang belum tahu, saya mengambil cicilan rumah bersubsidi tipe 36/72 di salah satu dari sekian banyaknya perumahan di kecamatan yang rumornya akan masuk wilayah pemekaran Bogor Timur ini.

Sampai hampir dua bulan saya tinggal di sini, perumahan luas ini masih tergolong sepi, dari satu blok yang ada sampai dua puluhan rumah, yang terisi paling baru 1-10 unit rumah saja, bahkan ada yang belum diisi sama sekali. jadi kalau kamu teriak-teriak di pojokan perumahan sini malem-malem. paling yang nyaut cuma jangkrik sama kodok yang lagi pacaran.

hasil foto yang saya ambil dari depan rumah
Hari-hari awal di sini saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa, tetangga blok saya yang sudah berkeluarga semua dan banyak yang berangkat kerja nyubuh pulang malem -sama seperti saya- dan pengalaman hidup hampir empat tahun ngekos di Jakarta yang masyarakatnya acuh tak acuh, saya merasa akan susah akrab di sini. sampai akhirnya salah satu tetangga saya - bapak berumur empat puluhan beranak satu - mengajak saya ngopi di depan rumahnya saat saya baru pulang kerja.

Ngopi-ngopi perdana saya di perumahan ini mengubah semuanya. mungkin dari 22 tahun hidup saya, baru kali ini saya merasakan hidup bermasyarakat yang sesungguhnya. mulai dari nongkrong-nongkrong biasa, arisan sampai kerja bakti dan ngeronda. semua saya lakukan di sini. dan saya merasa senang sekali, berkumpul dengan orang-orang dekat serasa seperti terapi. tetangga di sini seperti saudara dekat semua. dan saya seperti anak bungsu, soalnya cuma saya yang paling muda dan belum menikah di perumahan baru ini. *sekalian curhat

Bagi seorang introvert seperti saya yang selalu menghabiskan waktu di dalam rumah, ini benar-benar baru. dan mendengarkan bapak-bapak menyampaikan cerita-ceritanya ketika sedang ngopi dan nongkrong, sungguh banyak sekali pengalaman hidup yang jauh dari bayangan saya yang masih berumur tanggung ini.

Saat bercanda, bapak-bapak ini senang sekali ngobrol hal-hal vulgar - sambil godain saya yang satu-satunya belum punya istri - tapi ketika sedang serius, banyak cerita-ceritanya yang menggetarkan hati dan terasa sekali mereka-mereka sudah memakan asam garam kehidupan.

Salah satu contohnya adalah cerita bapak "H", saat pertama kali kenal beliau, saya mendefinisikannya sebagai tim hore. selalu lucu dan melawak disetiap obrolan-obrolan kami. semua warga sini menyukai bapak "H". dia selalu membuat ceria suasana di setiap waktu kita kumpul.

Sampai di satu malam, beliau bercerita sambil mata berkaca-kaca. di satu titik kehidupannya, ia kehilangan hampir semua keluarganya karena perampokan.

Di detik itu, saya hanya bisa ikut berkaca-kaca.

Intinya adalah, saya bersyukur sekali memutuskan untuk pindah ke sini. suasana dan orang-orang baru ini, membawa hawa positif bagi kehidupan saya yang masih hijau. mudah-mudahan ini bisa bertahan. bertahan sangaaat lama.


-Arif Chasan 18 Maret 2015