Kamis, 30 Oktober 2014

Jangan beli paket volume ultima dari Telkomsel

Sebulan lalu modem smartfren saya hilang, dan saya tidak mungkin hidup sebulan tanpa internet. karena aktifitas saya sehari-harinya tak bisa lepas dari internet. dari sekedar mengisi waktu sampai bekerja, semuanya saya lakukan lewat internet.

mau beli modem baru, tapi belum memiliki cukup uang, akhirnya saya putuskan untuk berlangganan internet dengan kartu as saya yang sudah saya miliki hampir 7 tahun ini.

agak berat sih awalnya, soalnya paket internet telkomsel ini ada dua tipe. satu berbasis volume, satu lagi kuota. saya pernah pakai kuota, kalau kuotanya habis, memang masih bisa internetan. tapi untuk buka homepage google.com saja bisa saya tinggal mandi dulu, cuci baju, yoga sampai saya merayakan ulang tahun lagi pun proses membuka googlenya masih saja loading.

yang kedua ini berbasis volume. tapi mahalnya minta ampun. untuk volume 9GB saja hargnya 400ribuan. dan yang paling bikin emosi dua belas dari paket ini adalah, kalau volumenya habis, telkomsel GAK NGASIH TAHU APAPUN. ngga ada notif atau apa. jadi kalau volumenya habis, dan kartu telkomsel kamu masih ada pulsa, ucapkan selamat tinggal pada pulsa kamu. dan saya sudah kecolongan ini hampir sejutaan (rupiah).

biasalah, lagi youtube-an, browsing dll.. pulsa saya baru ngisi 100rb. tau-tau volume sama pulsa di angka 0. kamu mau komplen sampai keluar kecoa dari mulutpun, telkomsel gak akan mau tau.dan ini sudah kejadian sama saya sekitar 4 sampai 5 kali.

satu kejadian terakhir baru-baru ini, ceritanya saya masih punya volume 500MB dan pulsa 160rb. ditinggal tidur dan bangun-bangun pulsa 0 dan volume masih 500MB. gila kan?

terus apa telkomsel mau refund? boro-boro, saya komplen dijanjiin maksimal 3x24 jam. di tanya lagi di hari keempat, disuruh nunggu lagi 3x24 jam. mungkin nunggu saya lupa ya?

memang saya cuman satu orang dari 200juta pelanggan telkomsel. pelanggan yang udah hampir 7 tahun pakai telkomsel, dengan penggunaan data hampir sejuta dibulan ini. tapi mohon izinkan saya untuk berkata ini dari dalam lubuk hati saya paling dalam - "dengan ini saya menyatakan benar-benar kecewa dengan pelayanan telkomsel"

jadi saran saya, jangan beli paket volume ultima dari telkomsel... atau jangan pakai telkomsel aja sekalian.

cheers

--edit bukti printscreen--





bisa diliat itu diprinstcreen diwaktu yang sama. biaya gprs 168rb tapi masih ada volume 500MB

printscreen tambahan lagi biar ngga dianggap omong kosong kalau saya emang rugi banyak dari paket ini




Kamis, 04 September 2014

what a life

saya sangat bersyukur. sungguh-sungguh bersyukur.
saya mau cerita sedikit tentang hal-hal yang membuat saya benar-benar bersyukur.

saya mempunyai keluarga yang sangat suportif. kalau melihat kebelakang, waktu umur saya masih dibawah jumlah total jari tangan, saya tidak pernah dimarahi kalau pulang ke rumah dalam keadaan kotor akibat main bola hujan-hujanan. justru saya akan dimarahi besar-besaran kalau berbohong sama orang tua saya. bagi saya yang sekarang, ini benar-benar pelajaran yang sangat berharga.

saya kemudian masuk SD, MTs, dan SMK. semua sekolah yang saya tempati itu semuanya adalah pilihan saya. memang orang tua dan beberapa orang memberikan masukan, tapi keputusan akhirnya tetap ada di tangan saya.

juga ketika akhirnya saya lulus SMK dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta, orang tua saya mendukung penuh keputusan saya tersebut.

di Jakarta inilah saya benar-benar belajar tentang hidup dan mengerti bagaimana dunia bekerja. jatuh bangun, susah senang, sakit sehat semuanya saya alami di Jakarta ini. bahkan rasa iri dan syukurpun saya baru benar-benar rasakan ketika hidup di sini.

boleh dibilang, beberapa minggu kebelakang saya baru mulai serius membangun hidup saya. dimulai dengan keputusan mencicil rumah diwilayah cileungsi, bogor. seperti biasa, begitu mendengar keputusan saya, kedua orang tua saya selalu suportif. justru malah ada teman yang "meragukan" keputusan saya dan menjabarkan sederet kerugiannya ketika saya pindah ke rumah cicilan saya sendiri dan setiap harinya harus pulang pergi kantor- rumah. saya senyum saja.

memang rumahnya jauh dari kata mewah dan kekurangannya banyak.. tapi ketika semuanya dari hasil tenaga sendiri dan tidak kekurangan ucapan syukur, semuanya sungguh manis.. betul kok :)

terakhir, kalau kebetulan ada yang lagi disekitaran cileungsi, bogor. monggo hubungi saya, kita ngeteh dan ngopi sambil cerita-cerita diberanda rumah kecil saya..


Kamis, 14 Agustus 2014

[Cerpen] Ekspektasi



Sudah tiga jam ia diam tanpa suara di sudut kamar ini. yah, kalau memang tempat ini masih bisa disebut kamar sih. secara statistik, 98% bagian isi rumah tak ada yang tak rusak. secara sekilaspun kamu bisa melihat meja terbalik, televisi pecah, patahan kaki kursi yang tersangkut di lampu pijar (entah bagaimana bisa seperti itu), dan pecahan-pecahan kaca juga barang elektronik yang memenuhi lantai. dan jika ingin jeli sedikit saja, ada sedikit darah di beberapa beling yang terserak di lantai.

8 Jam sebelumnya

Sekitar jam satu siang, terlihat Arya sedang duduk di sebuah lobby terminal internasional bandara Soekarno - Hatta. dari raut mukanya, ia terlihat sedikit gelisah. atau mungkin kata yang lebih tepat adalah ia sedang gugup maksimal. tangannya tak henti-hentinya memainkan kotak kecil bermotif polkadot dengan pita ungu menempel tak rapih diatasnya. walaupun ini sudah menjadi kebiasannya semenjak 6 bulan terakhir, dan ia sudah hapal betul suasana lobby yang AC nya masih saja rusak sejak pertama kali ia kesini, ia tetap saja tak bisa menghilangkan perasaan gugupnya. rasa gugup karena ia akan segera bertemu dengannya sebentar lagi.

Sudah sekian kali Arya melihat jam di smartphonenya juga mendongak untuk melihat jam digital besar yang menempel di tembok lobby memastikan tak ada yang salah dengan posisi waktunya sekarang. semakin dipastikan malah semakin membuat Arya gelisah. kali ini benar-benar gelisah. karena seharusnya semua alasan ia untuk kemari itu sudah selesai 47 menit yang lalu.

Arya bangun dari tempat duduknya untuk melihat sekeliling dengan jeli. meskipun ramai, ia seharusnya bisa mengenalinya meskipun dari jauh jika melihatnya. merasa usahanya nihil, ia kembali duduk dan membuka aplikasi messenger di smartphonenya:

Zahra said:
aku baru take off nih, tunggu yah :) - 7 hours ago

You wrote:
okee :) - 7 hours ago

You wrote:
kamu di mana? - a few minutes ago !not sent

Mungkin masih di pesawat dan dia masih mengaktifkan aiplane mode di smartphonenya. sehingga pesannya tidak terkirim. batin Arya optimis. lagipula kalau diingat-ingat, ia belum mendengar pengumuman ada pesawat yang landing dari tadi. jadi mungkin ada delay dan memang ia belum mendarat. deduksi Arya menenangkan diri. diapun memutuskan untuk tenang dan duduk merebah. menunggunya. sedikit lebih lama.

Sebuah mimpi terjatuh membangunkan Arya dan iapun kaget menyadari dirinya tertidur di kursi lobby bandara. melihat jam dinding digital besar, rangkaian kekagetannya berlanjut. ia ternyata sudah ketiduran selama 3 jam lebih. buru-buru ia beranjak dari kursinya dan melihat sekeliling. tak ada tanda-tanda orang yang ditunggunya sudah datang, diapun lantas membuka aplikasi messengernya, tak ada pesan baru. rasa gugupnya kini hilang dan berganti dengan rasa khawatir dan cemas. tanpa menunggu waktu, ia pun segera pergi mengarah ke bagian informasi bandara, menanyakan apakah penerbangan pesawat Garuda 747 yang ditumpangi Zahra, kekasihnya. sudah mendarat.

Saat berjalan, sebuah televisi yang tertempel di salah satu dinding sudut bandara tersebut menarik perhatiannya. bukan apa-apa, ia tak sengaja melihatnya karena televisi tersebut sedang dikerubungi oleh orang-orang. beberapa diantaranya ada yang menonton televisinya sambil menangis. Aryapun mengenyitkan alisnya dan melihat layar televisi tersebut lebih jelas. sebuah berita kecelakaan pesawat sedang tersiar saat itu.

Dengan seluruh tubuh yang bergetar, ia menghampiri layar televisi tersebut. sebuah berita kecelakaan pesawat Garuda 747 sudah menjadi headline utama berita-berita televisi nasional tanah air. pesawat yang sama yang Zahra tumpangi. kesadaran Aryapun menggelap.

Arya masih menatap kosong langit melalui jendela kamarnya yang pecah, ia masih tak sadar kalau kakinya masih meneteskan darah karena menginjak beling yang berserakan dilantai. rasa sakit fisik sepertinya tak berguna jika rasa sakit dihatinya sudah sangat besar. di hari itu, ia merasa, alasannya untuk hidup sudah jatuh bersama pesawat yang membawa kekasihnya dari dunia ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

 

Statistics



Check PageRank

Profile

Foto Saya
Blogging is not only about posting. it is about your heart who took part in every post that you type -Arif Chasan.

Google Friend Connect

© Copyright 2010 - 2012. garishorizon.blogspot.com . All rights reserved | garishorizon.blogspot.com is proudly powered by Blogger.com
Template by o-om.com - zoomtemplate.com | dan diutak-atik seperlunya oleh Arif Chasan