[Garis Horizon] Sampai hari ini, sudah hampir dua bulan saya menempati rumah di Cileungsi, Kab. Bogor. Bagi yang belum tahu, saya mengambi...

Hidup bermasyarakat

/
11 Comments
[Garis Horizon] Sampai hari ini, sudah hampir dua bulan saya menempati rumah di Cileungsi, Kab. Bogor.

Bagi yang belum tahu, saya mengambil cicilan rumah bersubsidi tipe 36/72 di salah satu dari sekian banyaknya perumahan di kecamatan yang rumornya akan masuk wilayah pemekaran Bogor Timur ini.

Sampai hampir dua bulan saya tinggal di sini, perumahan luas ini masih tergolong sepi, dari satu blok yang ada sampai dua puluhan rumah, yang terisi paling baru 1-10 unit rumah saja, bahkan ada yang belum diisi sama sekali. jadi kalau kamu teriak-teriak di pojokan perumahan sini malem-malem. paling yang nyaut cuma jangkrik sama kodok yang lagi pacaran.

hasil foto yang saya ambil dari depan rumah
Hari-hari awal di sini saya tidak memiliki ekspektasi apa-apa, tetangga blok saya yang sudah berkeluarga semua dan banyak yang berangkat kerja nyubuh pulang malem -sama seperti saya- dan pengalaman hidup hampir empat tahun ngekos di Jakarta yang masyarakatnya acuh tak acuh, saya merasa akan susah akrab di sini. sampai akhirnya salah satu tetangga saya - bapak berumur empat puluhan beranak satu - mengajak saya ngopi di depan rumahnya saat saya baru pulang kerja.

Ngopi-ngopi perdana saya di perumahan ini mengubah semuanya. mungkin dari 22 tahun hidup saya, baru kali ini saya merasakan hidup bermasyarakat yang sesungguhnya. mulai dari nongkrong-nongkrong biasa, arisan sampai kerja bakti dan ngeronda. semua saya lakukan di sini. dan saya merasa senang sekali, berkumpul dengan orang-orang dekat serasa seperti terapi. tetangga di sini seperti saudara dekat semua. dan saya seperti anak bungsu, soalnya cuma saya yang paling muda dan belum menikah di perumahan baru ini. *sekalian curhat

Bagi seorang introvert seperti saya yang selalu menghabiskan waktu di dalam rumah, ini benar-benar baru. dan mendengarkan bapak-bapak menyampaikan cerita-ceritanya ketika sedang ngopi dan nongkrong, sungguh banyak sekali pengalaman hidup yang jauh dari bayangan saya yang masih berumur tanggung ini.

Saat bercanda, bapak-bapak ini senang sekali ngobrol hal-hal vulgar - sambil godain saya yang satu-satunya belum punya istri - tapi ketika sedang serius, banyak cerita-ceritanya yang menggetarkan hati dan terasa sekali mereka-mereka sudah memakan asam garam kehidupan.

Salah satu contohnya adalah cerita bapak "H", saat pertama kali kenal beliau, saya mendefinisikannya sebagai tim hore. selalu lucu dan melawak disetiap obrolan-obrolan kami. semua warga sini menyukai bapak "H". dia selalu membuat ceria suasana di setiap waktu kita kumpul.

Sampai di satu malam, beliau bercerita sambil mata berkaca-kaca. di satu titik kehidupannya, ia kehilangan hampir semua keluarganya karena perampokan.

Di detik itu, saya hanya bisa ikut berkaca-kaca.

Intinya adalah, saya bersyukur sekali memutuskan untuk pindah ke sini. suasana dan orang-orang baru ini, membawa hawa positif bagi kehidupan saya yang masih hijau. mudah-mudahan ini bisa bertahan. bertahan sangaaat lama.


-Arif Chasan 18 Maret 2015


You may also like

11 komentar:

  1. paling enak kalau warganya ramah,berasa di kampung aja...

    BalasHapus
  2. Kalau begitu segera mencari nynya rumah ya rief :)

    BalasHapus
  3. tinggal sendiri, tidur sendiri, makan sendiri dong rif :D
    sok atuh geura ngelamar akhwat yang disukai, udah mapan ieuh :)

    BalasHapus
  4. problematika kalau bergaul sama orang yang lebih tua ya kayak gitu sih rif haha ngomong vulgarnya nggak kuat haha

    BalasHapus
  5. Satu yang pasti, kudu sawang sinawang... Karena kadang nggak jarang akan terjadi konflik kecil gara2 hal sepele. Tapi biasanya kalau kompleks baru itu orangnya bisa jadi lebih kompak loh... Karena merasa sama-sama warga "asli" hehehe

    BalasHapus
  6. Uhukk selama ini ngga bermasyarakat ya? hmmm makanya disuruh meet up aja susah yak *kabuuurrr* hehehe

    BalasHapus
  7. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus
  8. aduh di perumahan sendiri ? belum punya istri :D iya dong sepi , harusnya udah punya istri buat rumah sebesar itu .. cocok berdua :D

    BalasHapus
  9. Bisa membayangkan tinggal jauh begitu capeknya. Jadi sampai di rumah udah langsung tidur jarang kongkow sama warga tetangga. Karena saya pernah tinggal di Bogor gawe di Jakarta.
    Mantap tetangganya baik-baik.
    Semoga cepet dapat istri.

    salam,
    http://alrisblog.wordpress.com

    BalasHapus
  10. semoga bertahan sangat lamaaaaa keakrabannya. bukan singlenya, Ya Allah... amin.

    BalasHapus